Kategory
Info Daerah,
01-11-2025 13:46:05
Petugas medis melayani pendaftaran pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD AWS Samarinda. (Istimewa)
Samarinda, SISIKOTA.COM - Empat rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berdiri di Samarinda. Semuanya beroperasi di bawah naungan pemprov, tapi aktivitas di dalamnya menunjukkan kontras yang mencolok.
RSUD Abdul Wahab Sjahranie (RSUD AWS) nyaris tak pernah sepi. Antrean pasien terlihat di ruang tunggu sejak pagi, sementara tenaga medis terus bergantian melayani. Di sisi lain, tiga rumah sakit provinsi lainnya—RSJD Atma Husada Mahakam, RS Mata Kaltim, dan RSUD Aji Muhammad Salehuddin II (Korpri)—berjalan lebih tenang, bahkan pada jam sibuk.
Perbedaan tingkat kunjungan ini menjadi salah satu temuan dalam inspeksi yang dilakukan Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji pada akhir Oktober lalu. Dari hasil kunjungan itu, muncul kembali pertanyaan lama: mengapa masyarakat Samarinda masih terpusat pada satu rumah sakit, padahal fasilitas medis tersebar di beberapa titik kota.
“Kita ingin melihat bagaimana rumah sakit melayani masyarakat secara riil,” kata Seno Aji usai inspeksi di RSUD AWS. Ia juga menyinggung perlunya sosialisasi agar warga mengetahui keberadaan rumah sakit lain yang bisa digunakan untuk layanan umum.
Sejumlah tenaga kesehatan yang ditemui di lapangan menyebut, faktor kebiasaan dan persepsi publik menjadi penyebab utama penumpukan pasien di RSUD AWS. “Orang sudah terlanjur menganggap AWS sebagai rumah sakit utama. Padahal di sini, banyak rumah sakit lain yang juga siap,” kata salah satu petugas medis di RS Korpri.
Dari sisi fasilitas, tiga rumah sakit lain itu sebenarnya memiliki peralatan dasar yang cukup memadai untuk penanganan awal. Namun, beberapa di antaranya masih membutuhkan peningkatan peralatan lanjutan dan tenaga spesialis.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin mengatakan, pemerintah daerah berupaya menata fungsi rumah sakit agar pelayanan lebih merata. “Rumah sakit lain siap untuk tindakan awal. Untuk pelayanan lanjutan, kami sedang menambah alat dan SDM,” ujarnya.
Meski begitu, sejauh ini belum terlihat perubahan berarti pada arus pasien. RSUD AWS masih menjadi pilihan utama sebagian besar warga Samarinda dan sekitarnya. Sementara tiga rumah sakit lainnya tetap beroperasi dengan kapasitas rendah.
Kunjungan Wakil Gubernur malam itu mungkin tidak menemukan pelanggaran atau kekurangan berarti. Tapi dari situ tergambar satu persoalan yang belum tuntas: kesenjangan antara ketersediaan fasilitas kesehatan dan kepercayaan publik terhadap layanan yang ada. (*)
Tags:
RSUD AWS
Samarinda
17 jam yang lalu
18 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu