Konferensi Internasional FMIPA Unmul Bahas Biodiversitas dan Pembangunan IKN

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Para keynote speaker dan narasumber berfoto bersama usai menerima sertifikat penghargaan dalam The 5th ICMSc di Fakultas MIPA Universitas Mulawarman, Samarinda, Rabu (27/8/2025). (Bobby Lolowang/Sisikota.com)


Samarinda, SISIKOTA.COM - Keberlanjutan lingkungan tropis masih menjadi pekerjaan rumah yang kian mendesak di tengah ekspansi pembangunan dan perubahan iklim. Kalimantan, dengan hutan hujan tropis dan biodiversitas yang kaya, kini menghadapi tantangan baru: menjadi rumah bagi Ibu Kota Nusantara (IKN). Di satu sisi, proyek ambisius ini membuka peluang pembangunan, namun di sisi lain, memunculkan pertanyaan serius tentang keberlangsungan ekosistem tropis.

Dalam konteks itu, Universitas Mulawarman (Unmul) menegaskan posisinya melalui The 5th International Conference on Mathematics and Sciences (ICMSc), yang digelar pada 27–28 Agustus 2025 di Samarinda. Fakultas MIPA Unmul mengangkat tema besar Symphony of Sustainability—sebuah ajakan untuk menyatukan gagasan lintas disiplin dan negara demi mencari jalan keluar bagi persoalan keberlanjutan.

“Universitas Mulawarman berkomitmen mendorong riset berkualitas yang relevan dengan kebutuhan sosial, khususnya potensi tropis, hutan, dan biodiversitas,” ujar Rektor Unmul, Prof. Dr. Ir. H. Abdunnur, M.Si., IPU., ASEAN. Eng, dalam sambutannya. Menurutnya, konferensi ini bukan hanya forum berbagi pengetahuan, melainkan juga sarana membangun kolaborasi lintas negara. Lebih jauh, Abdunnur menekankan pentingnya forum ini untuk melahirkan penguatan disiplin ilmu baru. Ia berharap ide-ide yang dipertemukan di Samarinda bisa berkembang menjadi riset yang bermanfaat secara nasional maupun internasional. “Konferensi ini harus menjadi titik temu yang melahirkan inovasi, bukan hanya untuk Unmul, tetapi juga kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan global,” tegasnya.

Bagi Unmul, tema keberlanjutan tidak lahir di ruang kosong. Lokasi kampus yang berada di jantung Kalimantan Timur menjadikan isu lingkungan tropis sebagai fokus riset utama. Fakultas MIPA sendiri menekankan arah penelitian yang berhubungan dengan hutan tropis, maritim, hingga biodiversitas lembah dan ekosistem sekitar.

Ketua Panitia ICMSc, Dr. Sc. Mustaid Yusuf, M.Si., menjelaskan relevansi tema konferensi dengan arah pembangunan nasional. “Harapannya, penelitian yang dilakukan dapat mendukung kebijakan pemerintah, termasuk pembangunan IKN, sekaligus menjawab tantangan global terkait keberlanjutan,” ujarnya.

Pesan itu diperkuat Dekan Fakultas MIPA Unmul, Dr. Dra. Hj. Ratna Kusuma, M.Si., yang menekankan nilai kolaborasi. Menurutnya, simfoni dalam tema konferensi menggambarkan harmonisasi gagasan antarilmu dan antarnegara. “Sama seperti musik, keberlanjutan hanya mungkin lahir jika semua unsur bekerja dalam harmoni,” jelasnya.

Kekuatan konferensi ini tampak dari hadirnya enam pembicara kunci internasional yang mewakili spektrum bidang sains dari Asia hingga Eropa. Dari tuan rumah, Prof. Rudy Agung Nugroho dari FMIPA Unmul memaparkan riset biologi tropis yang menjadi keunggulan utama kampus. Dari Thailand, hadir Assoc. Prof. Dr. Warinthorn Chavasiri dari Chulalongkorn University yang membawakan perspektif kimia dan aplikasinya dalam isu keberlanjutan. Sementara itu, Prof. Dr. Joo Myun Park dari Kunsan National University, Korea Selatan, menyoroti pentingnya biologi kelautan dalam menjaga keseimbangan ekosistem tropis.

Dua akademisi dari Universiti Sains Malaysia turut memperkuat forum ini, yakni Assoc. Prof. Dr. Mardiana Idayu Ahmad dari School of Industrial Technology serta Assoc. Prof. Ts. Dr. Mohd Rosli Mohd Hasan dari School of Civil Engineering, yang masing-masing memberi wawasan tentang teknologi industri dan rekayasa sipil berkelanjutan. Dari Inggris, Distinguished Professor Peter M. Atkinson dari Lancaster University hadir membawa perspektif spatial data science, menawarkan pendekatan berbasis data spasial dalam memahami dinamika lingkungan global.

Kehadiran enam tokoh ini mempertegas bahwa konferensi di Samarinda bukan forum lokal semata, melainkan simpul jejaring riset global yang menyatukan disiplin berbeda untuk tujuan keberlanjutan.

ICMSc tahun ini bukan kali pertama digelar. Sebagai edisi kelima, konferensi ini telah tumbuh menjadi agenda akademik rutin yang dinanti peneliti dan mahasiswa. Tahun ini, sesi paralel melibatkan berbagai topik riset yang disajikan peneliti muda dan mahasiswa pascasarjana, menambah dinamika forum yang tidak hanya top-down dari profesor, tetapi juga membuka ruang bagi generasi ilmuwan baru.

Bagi Unmul, agenda ini sekaligus penegasan peran sebagai pusat kajian tropis di Indonesia. Di tengah geliat pembangunan IKN, riset-riset yang lahir dari Samarinda diharapkan mampu memberi landasan ilmiah bagi kebijakan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Penutup konferensi akan diumumkan pemakalah terbaik, simbol dari semangat kompetisi akademik yang sehat. Namun lebih dari itu, harapannya ialah terciptanya kolaborasi lintas negara untuk menghasilkan riset yang berdampak nyata.

Seperti disampaikan Mustaid Yusuf, simfoni keberlanjutan hanya mungkin lahir ketika akademisi, pemerintah, dan masyarakat berjalan seiring. Dari Samarinda, harmoni gagasan itu digulirkan, membawa pesan bahwa sains tropis dan keberlanjutan bukan sekadar isu lokal, melainkan kontribusi global yang berakar dari hutan hujan Kalimantan. (*)

Iklan sisikota.com

Tags:

Unmul