Kategory
Info Daerah,
17-04-2026 20:10:25
Gedung Mall Pelayanan Perempuan dan Anak (MPPA) di Kutai Kartanegara, yang menjadi salah satu pusat layanan penanganan kasus kekerasan dan perlindungan anak di daerah. (harry/sisikota)
Tenggarong, SISIKOTA.COM — Sejumlah kasus bullying di Kutai Kartanegara dilaporkan berdampak serius pada remaja, bahkan hingga membuat korban harus keluar dari sekolah. Dalam waktu yang sama, kasus kekerasan terhadap anak, termasuk kekerasan seksual, juga menunjukkan tren peningkatan.
Psikolog klinis Sabrina Hasyyati Maizan yang berpraktik di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kukar menyebut, kasus perundungan masih cukup banyak terjadi di lingkungan remaja. Dalam beberapa kasus, korban justru tidak mendapatkan perlindungan yang memadai.
“Bullying ini cukup banyak terjadi. Ada kasus di mana korban sampai harus keluar dari sekolah,” ujarnya.
Data yang ditangani hingga April 2026 menunjukkan, sedikitnya tiga kasus bullying telah ditangani dalam bulan tersebut. Sementara itu, kasus kekerasan terhadap anak, termasuk kekerasan seksual, juga tercatat cukup tinggi, bahkan terjadi pada anak usia prasekolah hingga sekolah dasar.
Ironisnya, sebagian besar pelaku dalam kasus kekerasan seksual terhadap anak justru berasal dari kalangan orang dewasa. Kondisi ini dinilai memperparah tekanan psikologis yang dialami korban.
Sabrina menjelaskan, gangguan kesehatan mental pada remaja tidak bisa dilepaskan dari faktor lingkungan, termasuk tekanan sosial dan pengaruh media digital. Fenomena membandingkan diri dengan orang lain di media sosial serta cyberbullying menjadi pemicu yang semakin memperburuk kondisi psikologis anak.
“Kesehatan mental itu berkaitan dengan cara berpikir, merasa, dan berperilaku. Kalau terganggu, bisa muncul kecemasan, depresi, hingga penilaian diri yang rendah,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti fenomena self-diagnose yang semakin marak di kalangan remaja. Banyak anak menilai kondisi mentalnya sendiri hanya berdasarkan informasi dari internet tanpa pendampingan profesional.
“Kalau hanya berdasarkan pencarian di internet, itu sangat berbahaya. Bisa membuat seseorang merasa kondisinya lebih parah dari yang sebenarnya,” katanya.
Ia mengingatkan pentingnya mengenali tanda-tanda awal gangguan mental, seperti perubahan pola tidur, pola makan, hingga munculnya kecemasan berkepanjangan. Remaja juga diimbau untuk tidak ragu mencari bantuan, baik kepada orang terdekat maupun tenaga profesional.
Kasus yang terus muncul menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental dan kekerasan terhadap anak di Kukar masih menjadi isu yang perlu penanganan serius dan berkelanjutan. (rry)
Tags:
kasus kekerasan anak kukar
19 jam yang lalu
19 jam yang lalu
22 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu