Lanjong Art Festival Bangkit Lagi, Sajikan Tema Provokatif dan Kolaborasi Internasional

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Empat perwakilan panitia Lanjong Art Festival 2025 saat jumpa pers di Kong Djie Cafe, Tenggarong, Selasa (19/8/2025). (Kontributor Sisikota.com)


Tenggarong,  SISIKOTA.COM -Delapan tahun berlalu sejak panggung terakhir Lanjong Art Festival menutup tirai. Kerinduan akan festival yang pernah disejajarkan dengan Erau dan Rock in Borneo itu akhirnya terjawab. Tahun ini, Lanjong kembali hadir di Tenggarong dengan tema provokatif “Habis Barat Terbitlah Timur”, menghadirkan seniman lokal hingga internasional sebagai ruang temu gagasan sekaligus tanda kebangkitan seni pertunjukan di Kutai Kartanegara.

Festival yang digelar dua tahun sekali ini memasuki penyelenggaraan keenam. Dedi Nala Arung, external representative, mengingatkan bahwa sejak 2018 Lanjong Art Festival sempat ditetapkan Bekraf RI sebagai salah satu event prioritas di Kaltim bersama Erau dan Rock in Borneo. Namun, perjalanan tak mulus. Rock in Borneo berhenti pada 2017, Lanjong pun ikut terhenti. Hanya Erau yang bertahan rutin setiap tahun. “Secara perasaan, kita merindukan event seperti ini yang punya nilai lebih dibanding sebelumnya,” kata Dedi.

Kerinduan itu akhirnya berwujud. Mulai 22–27 Agustus, publik bisa menyaksikan seluruh rangkaian acara Lanjong Art Festival 2025 secara gratis tiap malam pukul 20.00 WITA. Panitia berharap festival ini tak hanya menjadi tontonan, tetapi juga membuka ruang baru dalam cara pandang masyarakat terhadap perkembangan seni di Kutai Kartanegara.

Direktur Lanjong Foundation, Kosis, menegaskan bahwa festival kali ini ingin memberi panggung pada seni kontemporer yang kurang mendapat tempat di Tenggarong. Panji Sakti, Mawang, hingga kelompok teater akan tampil untuk menghidupkan ruang alternatif. “Tema Habis Barat Terbitlah Timur kami hadirkan sebagai stimulus. Ini tentang kekayaan interpretasi dan provokasi pemikiran,” ujarnya.

Direktur Festival 2025, Teh Mimi, menambahkan ada empat program utama sebagai tulang punggung festival: kompetisi teater, workshop, eksibisi, dan karya kolaboratif. Kompetisi teater sudah menggaet 11 kelompok dari seluruh Indonesia dengan 110 peserta. Mereka akan tampil di Ladaya, Tenggarong Seberang. “Kompetisi ini terbuka untuk semua, dan sudah ada peserta yang datang sejak kemarin,” jelasnya.

 

Selain kompetisi, ada workshop lintas pengetahuan yang mempertemukan seniman dengan generasi muda. Eksibisi pun menghadirkan seniman internasional, mulai dari seniman butoh Singapura, komposer Maria Lazuria asal Brasil, hingga kolaborator dari Jepang. Puncaknya pada 27 Agustus, Panji Sakti akan berkolaborasi dengan seniman lokal maupun luar negeri dalam karya kolaboratif.

Festival juga menyiapkan sarasehan di Ladaya. Instalasi dan dekorasi akan dirancang sebagai representasi tema sekaligus membangun nilai tawar budaya bagi penonton dan masyarakat. “Festival ini bukan sekadar hiburan, tapi pertemuan antar pikiran,” kata Teh Mimi.

Tema Habis Barat Terbitlah Timur pun punya makna mendalam. Analogi sederhana yang disampaikan panitia: anak-anak masa kini lebih percaya diri menyebut ibunya dengan “mama” ketimbang “emek.” Ada kecanggungan menggunakan istilah lokal, seolah terdegradasi, sementara istilah asing dianggap modern. Padahal, timur dan barat hanyalah arah, tidak ada yang lebih unggul. Pesan festival ini adalah menumbuhkan kepercayaan diri pada kekayaan lokal.

Seniman sekaligus kurator, Kang Abuy, menekankan bahwa festival ini ingin memindahkan kiblat seni pertunjukan ke Kutai Kartanegara. “Ajang ini dinanti banyak seniman karena panggungnya memberi ruang uji karya di hadapan publik. Pendaftar masih banyak dari Jawa, dan ke depan kami berharap lebih banyak dari Tenggarong,” ungkapnya.

Dengan rangkaian acara yang padat, partisipasi lintas negara, dan tema yang memancing refleksi, Lanjong Art Festival 2025 bukan sekadar panggung seni. Ia hadir sebagai jawaban atas kerinduan panjang, sekaligus membuka kembali ruang dialog tentang arah seni dan budaya di Kutai Kartanegara. (*)

Iklan sisikota.com

Tags:

Tenggarong