Kategory
Info Daerah,
21-04-2026 10:49:23
Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Tenggarong, Riva Dilyanti, menjelaskan kondisi overkapasitas dan program pembinaan warga binaan kepada awak media di Tenggarong, Selasa (21/4/2026). (Harry/sisikota.com)
Tenggarong, SISIKOTA.COM — Lapas Perempuan Kelas IIA Tenggarong saat ini dihuni 359 warga binaan, jauh di atas kapasitas ideal yang hanya sekitar 135 orang. Kondisi overkapasitas itu membuat sebagian warga binaan perempuan sementara harus ditempatkan di fasilitas lapas laki-laki dengan pengaturan terpisah.
Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Tenggarong, Riva Dilyanti, mengatakan lembaga tersebut merupakan satu-satunya lapas perempuan yang melayani wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Karena itu, penghuni datang dari berbagai daerah dan jumlahnya terus meningkat.
“Lapas ini satu-satunya lapas perempuan di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Jadi memang saat ini kami mengalami overkapasitas,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (21/4/2026).
Menurut Riva, mayoritas warga binaan tersangkut perkara narkotika. Berdasarkan asesmen internal, banyak di antaranya terjerat kasus karena tekanan ekonomi.
“Sekitar 80 persen warga binaan di sini terkait kasus narkotika, kebanyakan karena faktor ekonomi yang mendorong mereka mencari jalan pintas,” katanya.
Meski menghadapi keterbatasan ruang, pembinaan tetap berjalan. Pihak lapas menerapkan dua pendekatan utama, yakni pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian.
Pembinaan kepribadian dilakukan melalui kegiatan keagamaan, wawasan kebangsaan, hingga pembentukan karakter. Sementara pembinaan kemandirian diarahkan pada keterampilan kerja sesuai minat warga binaan.
Program yang dijalankan antara lain tata boga, menjahit, salon, laundry, sulam tumpar, merajut, serta kerajinan tangan lainnya.
“Kami lakukan asesmen dulu, lalu fasilitasi sesuai minat dan bakat mereka. Harapannya setelah keluar dari sini, mereka sudah punya bekal untuk hidup mandiri,” ujar Riva.
Lapas juga bekerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Kalimantan Timur untuk pelatihan menjahit. Warga binaan yang lulus uji kompetensi diharapkan memiliki peluang lebih besar masuk dunia kerja setelah bebas.
Sejumlah mantan warga binaan, lanjut dia, sudah membuka usaha mandiri seperti katering, toko kue, hingga jasa permak pakaian.
Namun, persoalan utama tetap berada pada kapasitas hunian. Pemerintah sebelumnya merencanakan pengembangan fasilitas lapas dengan target daya tampung meningkat hingga sekitar 700 orang.
Tahap awal pembangunan disebut telah dimulai pada 2024. Meski demikian, kelanjutan proyek dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp20 miliar tertunda akibat efisiensi dan diharapkan kembali diprioritaskan tahun depan.
Riva berharap masyarakat juga memberi ruang bagi warga binaan yang telah bebas untuk kembali bekerja dan menjalani hidup normal.
“Ketika mereka kembali ke masyarakat, dukungan lingkungan sangat penting agar mereka bisa benar-benar berubah dan mandiri,” tutupnya.
Tags:
Lapas Perempuan Kelas IIA Tenggarong
18 jam yang lalu
19 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu