Laut Terus Tertekan, Unmul Dorong Ekonomi Biru Jadi Jalan Keluar

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Suasana Simposium Nasional Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman yang diikuti akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan sektor kelautan untuk membahas pengelolaan sumber daya perikanan berbasis ekonomi biru di Lecture Theatre UNMUL HUB. (Istimewa)


Samarinda, SISIKOTA.COM - Tekanan eksploitasi sumber daya laut, ancaman perubahan iklim, dan kebutuhan menjaga ketahanan pangan menjadi sorotan dalam Simposium Nasional Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Mulawarman, Jumat (6/2/2026). Forum ini menekankan pentingnya pengelolaan sektor perikanan dan kelautan berbasis ekonomi biru sebagai pendekatan pembangunan berkelanjutan.

Dekan FPIK UNMUL, Dr. Moh. Mustakim, S.Pi., M.Si., mengatakan tema yang diangkat dalam simposium merangkum tiga kata kunci utama yang saling berkaitan.

“Tema yang kami angkat memiliki tiga kata kunci utama, yakni pengelolaan sumber daya perikanan, ekonomi biru, dan agenda pembangunan berkelanjutan. Ketiganya harus dipahami dan dijalankan secara terintegrasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengelolaan sumber daya perikanan tidak hanya menekankan aspek produksi, tetapi juga harus menjamin keberlanjutan, optimalisasi pemanfaatan, serta keadilan bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor tersebut.

“Ekonomi biru menuntut keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Inilah tantangan besar yang perlu kita jawab bersama,” jelasnya.

Menurut Mustakim, integrasi antara ekonomi biru dan pembangunan berkelanjutan perlu didukung oleh penguatan data dan sains sebagai dasar kebijakan, regulasi yang mendorong praktik ramah lingkungan, kemitraan multipihak, serta inovasi pembiayaan seperti blue bonds dan skema pembayaran jasa ekosistem.

Simposium ini diikuti oleh akademisi, peneliti, alumni, mahasiswa, praktisi, legislator, serta pemangku kepentingan sektor kelautan dan perikanan dari berbagai daerah. Sejumlah narasumber nasional turut hadir, di antaranya Ketua Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Perikanan dan Ilmu Kelautan Indonesia (FKPTPI) Prof. Dr. Fredinan Yulianda, Guru Besar FPIK UNMUL Prof. Dr. Iwan Suyatna, anggota DPRD Kaltim sekaligus alumni FPIK UNMUL Baharudin Demmu, S.Pi., M.Si., serta Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, H. Irhan Hukmaidy, S.Pi., M.P.

Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Mulawarman, Prof. Dr. Lambang Subagiyo, M.Si., menilai sektor perikanan memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Sektor perikanan bukan hanya menyangkut pangan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan sumber daya alam dan ketahanan ekologi. Tantangan seperti perubahan iklim dan tekanan eksploitasi harus dijawab dengan riset dan kebijakan yang tepat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, forum ilmiah lintas disiplin seperti simposium nasional menjadi ruang untuk menyatukan gagasan antara akademisi, pemerintah, dan pemangku kepentingan dalam merumuskan arah pengelolaan perikanan berkelanjutan.

“Forum ini diharapkan mampu melahirkan rumusan dan rekomendasi besar yang dapat diimplementasikan bersama oleh pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya,” katanya.

Simposium nasional yang digelar di Lecture Theatre, Gedung Prof. Dr. H. Masjaya, M.Si., UNMUL HUB ini merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-50 FPIK Universitas Mulawarman, yang puncaknya akan berlangsung pada 7 Februari 2026. Melalui kegiatan ini, FPIK UNMUL mendorong penguatan peran riset dan kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan yang berkelanjutan. (*)

Iklan sisikota.com

Tags:

universitas mulawarman

Unmul