Kategory
Info Daerah,
25-10-2025 12:16:45
Warga Dayak Kenyah mengarak perahu adat *Alut Adang* yang membawa rombongan Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri menuju Lamin Adat Desa Sungai Bawang pada pembukaan Festival Budaya Mecaq Undat 2025 di Kecamatan Muara Badak. (Istimewa)
Muara Badak. SISIKOTA.COM – Setiap kali padi menguning di ladang, masyarakat Dayak Kenyah punya cara tersendiri untuk mengucap syukur. Mereka menumbuk beras hingga menjadi tepung, menyanyi, menari, lalu berkumpul di lamin. Tradisi itu disebut Mecaq Undat—sebuah upacara panen padi yang bukan sekadar pesta, melainkan pengingat bahwa hasil bumi adalah berkah yang harus disyukuri bersama.
Ritual ini kembali hidup dalam Festival Budaya Mecaq Undat 2025 di Desa Sungai Bawang, Kecamatan Muara Badak. Di tengah deretan rumah kayu dan hiasan anyaman warna-warni, rombongan Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri tiba dengan cara yang tak biasa: diarak menggunakan perahu adat Alut Adang, sambil diiringi tetabuhan dan sorak warga. Setibanya di Lamin Adat, ia menjalani prosesi pembersihan diri menggunakan air bambu—simbol harapan agar pemimpin selalu dalam lindungan dan kesehatan.
Festival dibuka dengan pemukulan gong oleh bupati, diikuti penyumpitan balon sebagai tanda dimulainya lomba olahraga tradisional. Dari dalam lamin, terdengar musik sape’ mengalun mengiringi tarian Kancet Lasan dan Udoq Kiba yang dibawakan generasi muda Dayak Kenyah. Motif-motif ukiran pada dinding dan busana penari seakan berbicara sendiri tentang panjangnya sejarah leluhur mereka.
Ketua Panitia, Martinus Kuhi, menjelaskan bahwa Mecaq Undat telah menjadi tradisi tahunan masyarakat Sungai Bawang sebagai bentuk syukur dan persaudaraan. “Mecaq Undat secara harfiah berarti menumbuk beras hingga menjadi tepung. Dulu ini bagian dari upacara panen, tapi kini berkembang menjadi festival budaya untuk menjaga warisan nenek moyang,” ujarnya.
Menurut Martinus, makna terdalam dari ritual ini adalah kebersamaan. Setiap warga punya peran, dari yang menyiapkan beras, menari, hingga memainkan alat musik. “Kami berusaha agar tradisi ini tidak hilang. Ini cara kami menjaga jati diri,” tambahnya.
Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri menyebut Mecaq Undat sebagai contoh nyata pelestarian nilai-nilai lokal di tengah derasnya modernisasi. “Tradisi ini bukan hanya seremoni. Ia adalah cara masyarakat Dayak Kenyah merawat identitas dan mengajarkan rasa syukur kepada generasi muda,” katanya.
Ia juga menegaskan komitmen Pemkab Kukar untuk menjadikan budaya sebagai bagian penting pembangunan daerah. “Desa Budaya Sungai Bawang punya potensi besar untuk terus dikembangkan. Kami siap mendukung agar festival ini menjadi agenda tahunan yang berkelanjutan,” ujar Aulia.
Bagi masyarakat Dayak Kenyah, Mecaq Undat bukan hanya masa panen, tapi juga waktu untuk mempererat persaudaraan dan meneguhkan rasa kebersamaan. Di tengah modernitas yang cepat menggerus tradisi, upacara ini menjadi ruang di mana mereka tetap bisa mengenal siapa diri mereka dan dari mana mereka berasal. (*)
Tags:
desa sungai bawang
aulia rahman basri
Bupati Kukar
bupati kutai kartanegara
Muara Badak
17 jam yang lalu
18 jam yang lalu
20 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu