Kategory
Info Daerah,
26-05-2026 11:16:29
Suasana Pasar Tangga Arung Square, Tenggarong. (Harry/sisikota.com)
Tenggarong, SISIKOTA.COM — Renovasi Pasar Tangga Arung membuat wajah pasar lebih modern, tetapi belum semua pedagang merasakan dampak yang sama. Sebagian pedagang mengaku omzet mulai naik setelah memanfaatkan media sosial, sementara pedagang lain justru mengalami penurunan tajam karena arus pengunjung belum merata.
Kondisi itu terlihat dari pengalaman dua pedagang di Pasar Tangga Arung, Tenggarong. Pedagang pakaian Muhammad Arnik menyebut penjualannya membaik setelah aktif melakukan promosi digital. Sementara pemilik warung makan di lantai dua, Rusdy, mengaku pendapatannya belum mencapai seperempat dari kondisi sebelum relokasi.
Arnik mengatakan, penjualannya sempat turun pada awal kembali ke pasar yang telah direnovasi. Namun, kondisi itu mulai berubah setelah ia memanfaatkan WhatsApp dan media sosial untuk menjangkau pelanggan.
“Kalau saya pribadi, pendapatan alhamdulillah makin naik. Tapi di awal-awal memang agak turun. Cuma semenjak saya main media sosial, alhamdulillah ada perkembangan dibanding sebelum direlokasi dan sebelum pasar dibongkar,” ujar Arnik, Jumat (15/5/2026).
Menurut Arnik, kondisi Pasar Tangga Arung saat ini sudah lebih modern dan nyaman. Namun, dampak renovasi belum dirasakan merata oleh seluruh pedagang.
“Perubahannya memang ada, cuma tidak signifikan, sekitar 30 sampai 40 persen saja. Memang tidak semuanya mendapat dampak dari perpindahan pasar atau renovasi ini,” katanya.
Ia menilai kemampuan memanfaatkan media sosial menjadi salah satu faktor penting untuk bertahan di tengah perubahan pola belanja masyarakat. Selama ini, Arnik menjaga komunikasi dengan pelanggan melalui nomor WhatsApp, status WA, dan media sosial.
“Saya minta nomor WhatsApp pelanggan, lalu promosi lewat status WA dan media sosial. Sekarang memang harus kuat di media sosial,” tuturnya.
Arnik berharap pemerintah daerah dapat membantu pedagang melalui pelatihan pemasaran digital. Menurutnya, tidak semua pedagang memiliki kemampuan yang sama dalam menggunakan media sosial untuk promosi.
“Harapannya pemerintah bisa mengadakan penyuluhan atau pelatihan besar terkait penjualan online supaya semua pedagang bisa merasakan manfaatnya,” katanya.
Ia juga berharap promosi terhadap Pasar Tangga Arung lebih diperkuat, termasuk memperkenalkan pedagang kuliner dan kios-kios di lantai atas pasar.
“Mudah-mudahan pemerintah bisa membantu promosi, mengenalkan warung-warung yang ada di Pasar Tangga Arung. Jadi orang tahu kalau di sini bukan cuma jual pakaian, tapi juga ada makanan,” ujarnya.
Arnik menyebut pasar sebenarnya cukup ramai pada waktu tertentu, terutama sore hingga malam hari dan akhir pekan. Pengunjung tidak hanya datang dari Tenggarong, tetapi juga dari Samarinda, Loa Janan, dan wilayah lain.
“Kalau akhir pekan, Sabtu-Minggu, luar biasa ramainya. Banyak orang dari Samarinda, Loa Janan, dan luar Tenggarong datang,” jelasnya.
Menurut Arnik, fasilitas hiburan di sekitar pasar, seperti Taman Superhero, ikut membantu menarik pengunjung. Namun, ia menilai gaya pemasaran sebagian pedagang masih perlu diperbarui agar bisa mengikuti perubahan pasar.
“Tangga Arung Square ini menurut saya sudah setara mal. Cuma gaya penjualannya yang belum berkembang, ditambah promosinya masih kurang,” katanya.
Berdasarkan informasi yang ia terima dari sesama pedagang, Arnik memperkirakan sekitar 60 hingga 70 persen pedagang mengalami penurunan penjualan. Ia menyebut sebagian pedagang masih terbiasa dengan pola jual beli langsung dan belum maksimal memanfaatkan pemasaran digital.
“Pedagang yang muda mungkin lebih cepat paham, tapi banyak juga yang sudah terbiasa dengan cara lama, jualan face to face,” ujarnya.
Berbeda dengan Arnik, pemilik warung makan di lantai dua Pasar Tangga Arung, Rusdy, mengaku pendapatannya turun tajam setelah relokasi pasar.
“Pendapatan jauh berbeda dibanding sebelum pindah. Sekarang belum sampai seperempat dari sebelumnya,” ungkap Rusdy saat ditemui di lapak tempatnya berjualan, Sabtu (16/5/2026).
Rusdy menilai pemisahan antara pasar basah dan pasar kering ikut memengaruhi jumlah pengunjung. Menurutnya, masyarakat lebih sering datang ke pasar basah karena kebutuhan harian seperti sayur, ikan, dan bahan pokok.
“Kalau pasar kering, orang tidak mungkin setiap hari beli baju atau barang. Beda kalau ada sayur, ikan, atau kebutuhan harian, orang pasti datang setiap hari,” katanya.
Ia juga menyebut pedagang di lantai atas lebih terdampak karena sebagian pengunjung hanya berhenti di area depan pasar dan tidak naik ke bagian atas.
Meski demikian, Rusdy masih berharap aktivitas pasar dapat kembali meningkat. Ia menyebut rencana penambahan fasilitas hiburan seperti bioskop dapat membantu menarik lebih banyak pengunjung jika benar-benar terealisasi.
“Mudah-mudahan jadi, siapa tahu pasar tambah ramai,” ujarnya.
Para pedagang berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik pasar. Dukungan promosi, pelatihan digital, dan pengembangan fasilitas pendukung dinilai perlu berjalan bersamaan agar aktivitas perdagangan di Pasar Tangga Arung kembali stabil dan manfaat renovasi dapat dirasakan lebih merata.
Hingga berita ini disusun, redaksi masih berupaya meminta tanggapan pengelola pasar atau dinas terkait mengenai keluhan pedagang tersebut. (rry)
Tags:
pasar tangga arung
tangga arung square
18 jam yang lalu
19 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu