Pelabuhan Samboja Ingin Pangkas Ketergantungan Surabaya, Ekspor Didorong Lewat Kukar

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Mitra APBMI Kuala Samboja menerima penghargaan dalam rangkaian Musyawarah Cabang II APBMI Kuala Samboja di Hotel Platinum Balikpapan, Senin (20/4/2026). (Istimewa)


Balikpapan, SISIKOTA.COM — Pelaku usaha di Kalimantan Timur mendorong jalur ekspor langsung melalui Samboja, Kutai Kartanegara, agar tidak lagi bergantung pada Surabaya sebagai pintu pengiriman utama. Skema itu dinilai dapat memangkas biaya logistik sekaligus mempercepat distribusi barang ke pasar luar negeri.

Dorongan tersebut menguat seiring meningkatnya aktivitas di Pelabuhan Kuala Samboja yang kini melayani sekitar 70 kapal vessel setiap bulan. Kawasan ini mulai dilirik sebagai salah satu titik strategis pengembangan jalur ekspor baru di Kalimantan Timur.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Pengusaha Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Kuala Samboja, Loies Subowo Saminanto, mengatakan perkembangan pelabuhan dalam beberapa tahun terakhir cukup signifikan.

Sebelum 2019, kata dia, kapal yang berlabuh di Kuala Samboja masih terbatas karena kawasan tersebut berstatus terminal khusus batu bara.

“Sebelum tahun 2019, kapal yang berlabuh di Kuala Samboja masih sedikit karena masih berstatus terminal khusus batu bara,” ujarnya dalam Musyawarah Cabang II APBMI Kuala Samboja di Hotel Platinum Balikpapan, Senin (20/4/2026).

Menurut Loies, perubahan mulai terlihat sejak layanan ship to ship (STS) dibuka pada September 2019. Sejak saat itu, lalu lintas kapal meningkat dan kegiatan bongkar muat semakin ramai.

Saat ini, sebanyak 50 perusahaan tergabung di bawah APBMI Kuala Samboja. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen merupakan perusahaan lokal yang didirikan masyarakat sekitar.

“Ini pencapaian luar biasa. Artinya kegiatan ekonomi di sini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar, termasuk dari perekrutan tenaga kerjanya,” katanya.

Pengurus Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Kaltim, Hasrun, menilai selama ini masih banyak produk dari Kalimantan Timur yang harus dikirim melalui Surabaya sebelum diekspor ke luar negeri.

“Selama ini masih banyak produk kita yang diekspor masih melewati Surabaya. Kami berharap ke depan kita tidak perlu ke sana lagi, tapi cukup dari Samboja saja,” ujarnya.

Menurut dia, jika jalur ekspor langsung melalui Samboja terbentuk, biaya logistik dapat ditekan sehingga harga produk dari Kaltim menjadi lebih kompetitif di pasar global.

Selain itu, pengembangan jalur ekspor dari Kukar juga dinilai berpotensi membuka lapangan kerja baru, memperkuat usaha lokal, serta meningkatkan aktivitas ekonomi kawasan pesisir.

Ke depan, pelaku usaha berharap pembangunan Pelabuhan Amborawang dapat dipercepat agar kapasitas layanan semakin besar dan mendukung arus ekspor-impor.

Meski demikian, peluang tersebut tetap bergantung pada kesiapan infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, dan dukungan regulasi agar Samboja benar-benar mampu berkembang sebagai gerbang logistik baru Kalimantan Timur. (*)

Iklan sisikota.com

Tags:

pelabuhan kuala samboja