Kategory
Info Daerah,
14-11-2025 12:17:46
Suasana acara “Global Conservation Presents” di San Francisco, tempat pemaparan pengalaman konservasi dari berbagai negara termasuk Indonesia. (Unmul)
Samarinda, SISIKOTA.COM - Upaya konservasi di Kepulauan Derawan menarik perhatian forum internasional di San Francisco. Kawasan dengan biodiversitas laut tertinggi kedua setelah Raja Ampat itu dihadirkan sebagai studi kasus kolaborasi komunitas dan lembaga konservasi dalam melindungi wilayah pesisir yang rentan.
Paradoksnya, tekanan eksploitasi laut terus meningkat sementara kapasitas pemantauan masih terbatas. Kondisi ini menjadi latar kehadiran Dr. Dadang Ilham Kurniawan Mujiono, dosen Hubungan Internasional Universitas Mulawarman, dalam acara “Global Conservation Presents: Breakthrough Technologies and Strategies to Protect Our Planet”, Kamis (6/11/2025).
Di forum tersebut, ia mewakili Global Conservation Indonesia untuk memaparkan pengalaman lapangan dalam perlindungan Derawan. “Kami melihat bagaimana masyarakat lokal, pemerintah, dan organisasi konservasi bekerja bersama menjaga ekosistem yang rapuh,” ujar Dr. Dadang. Ia menekankan peran pendekatan community protection dan global park defense dalam menahan aktivitas destruktif di laut.
Pertemuan itu mempertemukan berbagai praktisi konservasi dari Amerika Serikat, Afrika Timur, Pasifik, hingga Asia Tenggara. Sejumlah tokoh hadir, termasuk Dr. Gregory Asner dari Arizona State University dan Dr. Lida Teneva dari WWF. Para peserta mendiskusikan strategi perlindungan laut berbasis teknologi dan penguatan peran masyarakat.
Salah satu langkah yang tengah diuji adalah penggunaan radar dan kamera jarak jauh. Teknologi itu membantu memantau pergerakan kapal dan aktivitas rawan lain di wilayah perairan. Di Derawan, alat pantau tersebut ditempatkan di titik yang dapat dijangkau relawan masyarakat yang bertugas melaporkan perubahan situasi.
Dalam sesi diskusi, Dr. Dadang membuka peluang kolaborasi riset antara Global Conservation dan Universitas Mulawarman. Fokusnya pada dampak sosial, politik, dan budaya dari kebijakan konservasi terhadap masyarakat pesisir. Ia menyebut hubungan antara teknologi perlindungan dan penerimaan masyarakat sebagai isu penting yang belum banyak diteliti.
Kolaborasi itu diharapkan melibatkan mahasiswa, akademisi, serta komunitas lokal untuk memperluas penelitian maritim berbasis Indonesia. Upaya ini menjadi bagian dari rencana memperkuat jejaring riset antara Unmul dan institusi global yang hadir di forum tersebut.
Pertemuan di San Francisco ditutup dengan komitmen sejumlah peserta untuk menindaklanjuti peluang kerja sama, khususnya dalam pengembangan teknologi pemantauan dan kajian kebijakan pesisir. (*)
Tags:
universitas mulawarman
Unmul
17 jam yang lalu
18 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu