Kategory
Info Daerah,
04-05-2026 13:10:22
Komunitas Pelem Indie Tenggarong menggelar pemutaran film dokumenter Pesta Babi sebagai ruang diskusi tentang pembangunan, relasi pusat-daerah, dan isu lokal di Kukar. (Harry/sisikota.com)
Tenggarong, SISIKOTA.COM – Pemutaran film dokumenter Pesta Babi di Tenggarong tidak berhenti sebagai agenda nonton bareng. Komunitas Pelem Indie Tenggarong menjadikan film tentang Papua itu sebagai pintu masuk untuk membahas pembangunan, relasi pusat-daerah, dan dampaknya bagi daerah seperti Kutai Kartanegara dan Kalimantan Timur.
Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu (2/5/2026). Pemutaran film ini menjadi bagian dari upaya komunitas film lokal membangun ruang diskusi publik sekaligus memperkuat ekosistem kreatif di Tenggarong.
Founder Komunitas Pelem Indie Tenggarong, Faruq Wijaya, mengatakan kegiatan ini berangkat dari forum-forum sebelumnya yang membahas kebutuhan ruang kreatif dan diskusi di daerah.
“Pemutaran film dokumenter ini berangkat dari kegiatan sebelumnya yang kami lakukan untuk membangun ekosistem film di Tenggarong. Dari forum-forum tersebut muncul kegelisahan bahwa kita perlu lebih banyak ruang diskusi agar ekosistem kreatif bisa berkembang,” ujarnya.
Menurut Faruq, Pesta Babi dipilih karena film tersebut sedang ramai diperbincangkan dan memuat isu yang relevan untuk dibaca lebih luas. Meski mengangkat konteks Papua, ia menilai pesan dalam film itu juga dapat menjadi bahan refleksi bagi daerah lain.
“Ketika film Pesta Babi mulai ramai dibicarakan, kami melihat ini sebagai momentum untuk menghadirkan ruang diskusi. Kami kemudian berkoordinasi dan menggelar pemutaran sebagai bagian dari upaya menghidupkan diskursus di daerah,” lanjutnya.
Faruq menyebut, film dokumenter tidak hanya berfungsi sebagai tontonan. Di dalamnya, terdapat gagasan, persoalan, dan sudut pandang yang dapat membuka ruang percakapan baru di tengah masyarakat.
“Film ini tidak hanya berhenti pada tontonan, tetapi memunculkan gagasan dan isu yang bisa direfleksikan. Meski mengangkat konteks Papua, tetapi apa yang disampaikan juga relevan untuk kita di Kutai Kartanegara dan Kalimantan Timur,” jelasnya.
Ia menilai, isu pembangunan dan relasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi salah satu hal penting yang perlu dibicarakan secara terbuka. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya menerima kebijakan, tetapi juga perlu memahami dampak jangka panjangnya terhadap ruang hidup dan kehidupan sosial.
“Ini juga berkaitan dengan bagaimana relasi pusat dan daerah. Kita tidak hanya menerima kebijakan begitu saja, tetapi perlu ada ruang berpikir dan berdialog, agar kebijakan tersebut bisa lebih sesuai dengan kondisi di daerah,” tambahnya.
Faruq mengatakan, isu yang diangkat dalam Pesta Babi dapat membantu publik melihat pembangunan dari sudut pandang yang lebih kritis. Bukan untuk menolak perubahan, melainkan agar masyarakat mampu membaca dampak sosial, ekologis, dan ekonomi dari setiap kebijakan besar.
“Film ini sangat layak ditonton karena mampu membuka wawasan dan cara pandang. Isu yang diangkat memang tentang Papua, tetapi juga menyentuh konteks daerah lain seperti Kalimantan, sehingga bisa menjadi bahan refleksi bersama,” tutupnya.
Melalui pemutaran Pesta Babi, Komunitas Pelem Indie Tenggarong berharap ruang diskusi semacam ini dapat terus tumbuh. Film alternatif dinilai dapat menjadi medium untuk memperkuat budaya literasi kritis, menghidupkan percakapan publik, dan membangun ekosistem perfilman yang lebih berkembang di Tenggarong. (rry)
Tags:
Komunitas Pelem Indie Tenggarong
17 jam yang lalu
18 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu