Pesut Mahakam “Lion” Ditemukan Mati di Kota Bangun, Populasi Kini Tersisa 65 Ekor

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Evakuasi Pesut Mahakam bernama Lion yang ditemukan mati di Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun. (Ist/BPSPL Pontianak Wilker Mahakam Ulu)


Tenggarong, SISIKOTA.COM — Seekor Pesut Mahakam bernama Lion ditemukan mati di Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Selasa (5/5/2026). Kematian satwa endemik Sungai Mahakam itu membuat populasi Pesut Mahakam yang terdata kini disebut tersisa 65 ekor.

Ketua Yayasan RASI, Danielle Kreb, mengatakan bangkai pesut tersebut pertama kali ditemukan di wilayah Kampung Baru, Desa Liang. Bangkai itu kemudian diamankan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sebelum dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Ditemukannya di Liang, kemudian diamankan di TPI. Awalnya di sungai, kemudian masuk di teluk,” kata Danielle.

Menurut Danielle, warga kemudian meminta bantuan Tim Pokdarwis Pela yang berada paling dekat dengan lokasi untuk melakukan pencarian dan evakuasi.

“Mereka minta tolong Tim Pokdarwis Pela untuk mencarikan. Akhirnya mereka mencarikan dan ketemu, lalu kami minta diantar ke stasiun di Sangkuliman,” ujarnya.

Proses evakuasi dilakukan menggunakan rakit milik Yayasan RASI setelah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Bangkai pesut kemudian dibawa ke lokasi yang dinilai memungkinkan untuk dilakukan nekropsi atau pemeriksaan bangkai satwa.

Danielle menjelaskan, pemeriksaan awal dilakukan oleh dokter dari Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Kalimantan Timur yang datang dari Samarinda. Tim melakukan pengukuran dan pengambilan sampel untuk mengetahui penyebab kematian Lion.

“Sampel-sampel sudah diambil dan dibawa ke laboratorium toksikologi dan kualitas perairan di Fakultas Perikanan Unmul,” katanya.

Namun, Danielle menegaskan penyebab kematian Lion belum dapat dipastikan. Hasil pemeriksaan laboratorium masih diperlukan sebelum kesimpulan resmi disampaikan.

“Untuk penyebab kematian belum bisa dipastikan. Dari pengamatan luar memang ada luka lebam di leher dan terlihat cukup berdarah, tetapi harus diverifikasi lagi apakah itu sampai ke otot atau tidak,” jelasnya.

Menurut Danielle, pemeriksaan lanjutan melalui histopatologi akan membantu memastikan apakah luka tersebut berkaitan dengan benturan luar atau faktor lainnya.

“Nanti bisa dilihat dari lukanya saat pemeriksaan histopatologi. Jadi tidak bisa langsung dipastikan penyebabnya,” tambah Danielle.

Terkait usia Lion, Danielle menyebut pihaknya belum bisa memastikan secara pasti. Sebab, studi foto identifikasi Pesut Mahakam baru dimulai pada 1999.

“Kami tidak tahu sebenarnya dia lahir kapan, karena studi foto identifikasi baru mulai tahun 1999. Jadi kemungkinan usianya di atas 30 atau 35 tahun. Bahkan Pesut Mahakam dapat hidup hingga usia sekitar 50 tahun,” ujarnya.

Danielle mengungkapkan, jumlah populasi Pesut Mahakam yang tercatat hingga akhir 2025 sebanyak 66 ekor. Setelah kematian Lion, populasi yang terdata kini tersisa 65 ekor.

Hasil lengkap pemeriksaan laboratorium diperkirakan baru diketahui lebih dari satu bulan ke depan. Pemeriksaan itu mencakup sejumlah uji, mulai dari logam berat, bahan kimia, racun, hingga mikroplastik.

“Biasanya memang agak lama karena harus melalui beberapa penelitian. Ada pemeriksaan logam berat, bahan kimia, racun, atau mikroplastik juga akan dicek,” tutupnya. (rry)

Iklan sisikota.com

Tags:

pesut mahakam