Petala Borneo dan Ratna Citra Bawa Keroncong Tingkilan ke Festival Sri Muntai

Kategory Budaya,
16-07-2026 17:24:53

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               Budaya

Petala Borneo tampil di Taman Musik Tenggarong. Kelompok musik tersebut akan membawakan karya bernuansa Keroncong Tingkilan dalam Festival Budaya Sri Muntai. (Harry/Sisikota.com)


Tenggarong, SISIKOTA.COM – Keroncong Tingkilan akan hadir dengan warna berbeda dalam Festival Budaya Sri Muntai. Petala Borneo dan Ratna Citra menyiapkan perpaduan instrumen tradisional Kutai dengan aransemen modern agar musik tersebut tetap dekat dengan generasi muda.

Kedua kelompok musik asal Kutai Kartanegara itu akan membawa pendekatan berbeda tanpa meninggalkan karakter Melayu Kutai yang menjadi dasar karya mereka.

Komposer Petala Borneo Achmad Fauzi mengatakan perjalanan kelompoknya telah berlangsung hampir 11 tahun sejak masih menggunakan nama Olah Gubang. Pada 2025, kelompok tersebut berganti nama menjadi Petala Borneo dengan personel yang relatif tetap dan pengelolaan mandiri.

“Petala Borneo sudah berjalan hampir 11 tahun. Sebelumnya kami menggunakan nama Olah Gubang, kemudian tahun lalu melakukan rebranding menjadi Petala. Personelnya masih sama, hanya sekarang kami memiliki manajemen sendiri,” kata Fauzi saat ditemui di kawasan Jam Bentong, Tenggarong, Sabtu, 11 Juli 2026.

Sejak awal, kelompok tersebut menjadikan Keroncong Tingkilan sebagai dasar musikal dalam setiap karya. Album perdana mereka, Bunga Hati Bertemu, memuat 12 lagu dengan warna Keroncong Tingkilan.

Pada album kedua, Petala Borneo mulai memperluas eksplorasi musikal. Instrumen keroncong tidak selalu digunakan secara lengkap, tetapi karakter irama dan nuansa Kutai tetap dipertahankan.

“Di album kedua yang baru dirilis, kami mencoba membuka ruang eksplorasi musik yang lebih luas. Walaupun begitu, kami tidak pernah meninggalkan karakter keroncong,” ujar Fauzi.

Petala Borneo antara lain memadukan gambus dan sejumlah instrumen modern dalam aransemennya. Menurut Fauzi, perubahan instrumen tidak dimaksudkan untuk menghilangkan identitas musik tradisional, melainkan memberikan ruang pengembangan agar karya mereka dapat terus tumbuh.

Dalam proses kreatif, setiap aransemen dibahas bersama para personel. Kelompok tersebut tidak ingin terlalu terikat pada aturan musikal apabila justru membatasi eksplorasi.

“Kalau terlalu terpaku pada pakem, ruang kreativitas malah menjadi terbatas,” katanya.

Vokalis Petala Borneo Nova Abelia mengatakan tantangan utama kelompok bukan sekadar persoalan teknis. Konsistensi berlatih dan kemampuan membangun rasa dalam setiap penampilan dinilai lebih penting.

“Selama kami terus berkarya bersama, setiap persoalan teknis selalu bisa kami selesaikan bersama,” ujar Nova.

Untuk Festival Budaya Sri Muntai, Petala Borneo menyiapkan sejumlah lagu dari album terbarunya. Susunan lagu dan aransemen masih dapat berubah menyesuaikan suasana panggung serta karakter penonton.

Menurut Fauzi, festival tersebut menjadi ruang yang tepat untuk membawa Keroncong Tingkilan kembali ke lingkungan budaya yang melahirkannya.

“Festival Sri Muntai sangat identik dengan budaya Melayu Kutai dan Keroncong Tingkilan. Kami ingin mengembalikan musik ini ke tempatnya, tetapi dengan warna yang lebih kekinian agar bisa dinikmati generasi muda,” katanya.

Nova menambahkan, penampilannya akan menitikberatkan pada pembangunan emosi agar penonton tetap merasakan karakter Keroncong Tingkilan meskipun musiknya dikemas secara modern.

“Yang lebih saya pikirkan adalah bagaimana membangun rasa ketika tampil, supaya penonton tetap bisa merasakan nuansa Keroncong Tingkilan,” ujarnya.

Persiapan juga dilakukan Ratna Citra. Personel sekaligus tim kreatif Ratna Citra, Muhammad Ryandi Miratama, mengatakan kelompoknya akan memadukan instrumen tradisional Kutai dengan alat musik modern dalam penampilannya.

“Untuk penampilan di festival budaya, kami akan all out dan memberikan yang terbaik,” kata Ryandi. (har)

Iklan sisikota.com

Tags:

sri muntai