Kategory
Info Daerah,
19-11-2025 09:52:27
Para pejabat dan perwakilan komunitas budaya berpose bersama pada pembukaan Festival Memory of Yupa 2025 di Museum Lesong Batu, Muara Kaman. (Bobby Lolowang/Sisikota.com)
Muara Kaman, SISIKOTA.COM - Jejak peradaban tua di Muara Kaman kembali diuji nilainya ketika Festival Memory of Yupa 2025 dibuka. Di tengah dorongan daerah untuk memperkuat identitas dan ekonomi kreatif, prasasti berusia lebih dari 14 abad itu tampil sebagai pengingat bahwa akar sejarah bisa menjadi modal sosial sekaligus rujukan pembangunan berbasis budaya. Ketegangan muncul antara kebutuhan menjaga warisan dan keharusan menempatkannya dalam percakapan global tentang arsip dan literasi.
Festival yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kutai Kartanegara pada 17–19 November itu memadukan pameran, dialog publik, dan lokakarya. Semua diarahkan untuk menunjukkan bahwa Yupa tidak berhenti sebagai artefak, tetapi sebagai sumber data sejarah awal negara, kontak budaya, dan pembentukan identitas politik di wilayah Sungai Mahakam. Prasasti berbahasa Sanskerta dengan aksara Pallava itu adalah bukti tertulis awal di Nusantara yang menghubungkan cerita lokal dengan jaringan kekuasaan masa lalu.
Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, hadir langsung melihat instalasi. Ia sempat berhenti memperhatikan replika Yupa sambil mendengar penjelasan kurator kepada sekelompok siswa yang baru tiba.
“Kegiatan malam ini meriah dan pertama kali digelar oleh teman-teman Diarpus Kukar. Saya bilang ini sukses karena banyak hal yang diangkat, dengan memory of yupa ini mengajak kita untuk kembali mengingat sejarah yang berada di Muara Kaman,” ucapnya pada Senin (17/11/2025).
Rendi menekankan bahwa festival ini tidak bisa diperlakukan sebagai seremoni tahunan. Ia menyebut kekayaan budaya Kukar perlu digali setara dengan sumber daya alam yang selama ini mendominasi ekonomi daerah. Sektor wisata sejarah dan religi, kata dia, bisa memberi manfaat jangka panjang jika dikelola dengan konsisten.
“Harapannya, orang luar saja berkunjung ke sini menjaga tempat ini dengan baik, masa kita orang sini tidak menjaga dengan baik. Jaga semua tempat serta cagar budaya yang berada di Kukar,” katanya.
“Festival ini sebagai bagian penting dari visi dan misi Kukar Idaman Terbaik, khususnya dalam penguatan kebudayaan,” tambah Rendi.
Kepala Dewan Pakar Memory of the World (MOW), Mukhlis Paeni, memberikan gambaran yang lebih struktural. Ia menjelaskan bahwa Yupa berada dalam dua agenda besar: usulan arsip preservasi dari Jepang untuk memori kolektif bangsa, dan proses pengajuan Yupa sebagai Memory of the World UNESCO.
“Melakukan kajian, penelitian, dan pengamatan terhadap warisan-warisan budaya yang akan dijadikan sebagai memori kolektif bangsa,” kata Mukhlis saat memaparkan mandat kelembagaannya.
Proses pengakuan Yupa sebagai cagar budaya sudah rampung, namun aspek konten masih menjadi tantangan. Menurutnya, pertanyaan utamanya adalah apakah isi prasasti itu memiliki dampak jangka panjang yang relevan bagi masyarakat modern.
“Pertanyaannya, apakah isi itu mempunyai dampak besar terhadap perkembangan masyarakat setelah ribuan tahun sekitar 1400 tahun yang lalu? Apakah masih mempunyai dampak pada masyarakat sekarang?” ujarnya.
Ia menilai Yupa adalah penanda harga diri bangsa yang menunjukkan kesinambungan antara masyarakat masa lalu dan yang hidup kini.
“Prasasti itu adalah tonggak-tonggak dari keberlangsungan bangsa kita, yang mempunyai garis keterhubungan dengan masyarakat yang ada sekarang,” tegasnya.
Mukhlis memastikan Arsip Nasional mendukung upaya agar Yupa ditetapkan sebagai memori kolektif bangsa dan Memory of the World.
Ptl Kepala Diarpus Kukar, Rinda Desianti, melihat festival ini sebagai bagian dari kerja panjang yang melibatkan banyak pemangku kepentingan. Ia mengingatkan bahwa perjalanan sejarah Yupa merentang dari Muara Kaman hingga kawasan Kelamasi.
“Dari Muara Kaman sampai kini kita seperti abai. Mudah-mudahan dari MOW, dari MKB, atau kegiatan ini bisa mengubah semangat kita untuk kembali mempelajari dan menghargai sejarah serta kebudayaan yang ada,” katanya.
Rinda menambahkan bahwa Yupa telah didaftarkan sebagai Memory of the World dan memori kolektif bangsa. Ia berharap festival ini berkembang tiap tahun menjadi ruang perjumpaan lebih luas, tidak hanya sejarah, tetapi juga kuliner, tari, pakaian, dan narasi budaya Kutai Kartanegara.
“Untuk upaya yang dilakukan memperkenalkan lagi Yupa di dunia, ini sudah didaftarkan ke UNESCO. Saya berharap setiap tahun ada hal-hal, bukan hanya dari sisi sejarah, tapi juga bisa dari makanan, tari, pakaian, yang kemudian bisa menjadi perjalanan Kutai Kartanegara dalam mengisi Memory Kolektif Bangsa,” ujarnya.
Festival Memory of Yupa 2025 menutup rangkaiannya dengan satu pesan yang terus berulang di setiap sesi: Yupa bukan masa lampau yang beku. Ia adalah rujukan identitas dan pengetahuan yang kini diuji lagi nilainya di hadapan masyarakat yang tumbuh di sekitarnya. Artefak itu tetap berdiri, dan yang berubah adalah cara publik membacanya hari ini. (bby)
Tags:
muara kaman
prasasti yupa
Rendi Solihin
Wakil Bupati Kukar
17 jam yang lalu
18 jam yang lalu
20 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu