Kategory
Info Daerah,
27-10-2025 10:48:26
Peserta Sarasehan Ketahanan Pangan dan Tanam Padi Bersama Petani dan Mahasiswa berpose usai menanam bibit di lahan pertanian Gapoktan Maju Sejahtera, Muara Jawa Ulu, Kutai Kartanegara, Sabtu (25/10/2025). (Istimewa)
Muara Jawa, SISIKOTA.COM – Ketahanan pangan menjadi fondasi penting bagi masa depan Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun di Kutai Kartanegara (Kukar) —wilayah yang digadang menjadi penyangga utama pasokan pangan— persoalan dasarnya belum tuntas. Petani masih kesulitan pupuk, irigasi belum stabil, dan harga gabah kerap tak sebanding dengan biaya tanam.
Data Dinas Pertanian dan Peternakan Kukar menunjukkan, dari 20 kecamatan yang ada, 10 di antaranya merupakan sentra penghasil padi. Luas baku sawah mencapai 17.370 hektare dengan produksi sekitar 120 ribu ton gabah per tahun. Angka itu baru memenuhi 30–40 persen kebutuhan pangan Kalimantan Timur. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa lumbung pangan untuk IKN belum sepenuhnya siap.
Pemerintah daerah kini menyiapkan arah pembangunan Kukar 2025–2030 yang menempatkan pertanian sebagai pilar utama, sejajar dengan pariwisata dan industri hijau. Strateginya mencakup pemanfaatan lahan eks tambang, hilirisasi produk pertanian, serta penguatan kelembagaan petani melalui koperasi dan BUMDes.
Isu ini mengemuka dalam Sarasehan Ketahanan Pangan dan Tanam Padi Bersama Petani dan Mahasiswa di Pendopo Gapoktan Maju Sejahtera, Kelurahan Muara Jawa Ulu, Sabtu (25/10/2025). Acara yang diinisiasi Anggota Komisi II DPRD Kukar, Rahmat Dermawan, bersama Ikatan Alumni Pembangunan Sosial (IKA Pemsos) FISIP Universitas Mulawarman (Unmul) itu menjadi forum lintas pihak untuk mencari solusi konkret.
“Masalah pupuk, alat pertanian, dan infrastruktur masih klasik dan berulang. Keberpihakan kepada petani harus nyata, bukan janji,” kata Rahmat dalam forum tersebut. Ia menekankan pentingnya memastikan program 100.000 Petani dan Nelayan Produktif benar-benar dirasakan oleh masyarakat di wilayah penyangga IKN.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kukar, Muhammad Taufik, yang hadir sebagai narasumber, menyebut ketahanan pangan di Kukar masih dalam tahap penguatan struktur produksi. “Boro-boro menyiapkan untuk IKN, untuk kebutuhan masyarakat Kaltim saja masih jadi tantangan. Tapi ini peluang besar untuk memperkuat pertanian kita,” ujarnya.
Dari sisi kebijakan pusat, Direktur Ketahanan Pangan Otorita IKN, Dr. P. Setia Lenggono, menjelaskan bahwa berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 79 Tahun 2025, IKN akan resmi menjadi ibu kota politik Republik Indonesia pada 2028. “Artinya, dalam tiga tahun ke depan permintaan pangan akan meningkat tajam. Daerah penyangga seperti Kukar harus siap menghadapi lonjakan itu,” katanya.
Usai dialog, para peserta menanam padi di lahan sekitar pendopo. Dosen, mahasiswa, dan petani turun bersama, menancapkan bibit padi di tengah tanah becek yang baru diguyur hujan. Simbol kecil, tapi mencerminkan kolaborasi yang mulai tumbuh di akar persoalan.
Di balik optimisme itu, tantangannya tetap nyata: produktivitas rendah, biaya produksi tinggi, dan distribusi belum efisien. Jika persoalan mendasar ini tak segera diatasi, ambisi menjadikan Kukar sebagai dapur IKN akan tertinggal dari laju pembangunan Nusantara yang terus berjalan. (*)
Tags:
Kecamatan Muara Jawa
Kecamatan Samboja
Samboja
17 jam yang lalu
18 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu