Kategory
Info Daerah,
12-09-2025 13:14:46
Kepala Desa Sumber Sari, Sutarno, menjelaskan capaian produksi padi 1.000 ton per musim dari 318 hektare lahan sawah produktif di Kecamatan Loa Kulu, Kukar, Senin (15/9/2025). (Kontributor Sisikota.com)
Loa Kulu, SISIKOTA.COM - Desa Sumber Sari di Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terus mengukuhkan diri sebagai salah satu lumbung padi terkuat di wilayah Mahakam. Dengan luas lahan produktif mencapai 318 hektare, desa ini mampu melakukan dua kali panen dalam setahun, menghasilkan total produksi sekitar 1.000 ton gabah per musim. Angka tersebut mencerminkan perputaran ekonomi yang signifikan di tingkat desa, sekaligus memperlihatkan ketahanan pangan lokal yang cukup kuat.
Kepala Desa Sumber Sari, Sutarno, mengungkapkan bahwa produktivitas rata-rata berada di kisaran 4,5 ton per hektare. Jika dikalkulasikan dengan harga pasaran gabah sebesar Rp300.000 per kuintal, nilai ekonomi yang dihasilkan masyarakat setiap musim panen bisa mencapai miliaran rupiah. "Dengan harga pasaran Rp300.000 per kuintal, nilai ekonomi panen kami sangat signifikan. Inilah yang menjadi tulang punggung perekonomian warga," ujarnya saat ditemui di area persawahan, Senin (15/9/2025).
Ia menjelaskan, budaya agraris yang telah mengakar membuat masyarakat terbiasa mengelola sendiri hasil panen mereka. Tercatat ada tujuh unit penggilingan padi pribadi milik warga yang beroperasi di desa tersebut. Mekanisme ini memungkinkan petani menggiling hasil panen menjadi beras dan langsung memasarkannya ke konsumen. "Petani kita sudah terbiasa menjual langsung di pasar mingguan atau pasar malam di Tenggarong. Dengan harga beras mencapai Rp15.000 per kilogram, margin keuntungan lebih terasa dibanding hanya menjual gabah," jelasnya.
Namun, di balik capaian tersebut, tantangan tetap ada. BUMDes Sumber Sari sejauh ini belum sepenuhnya mengambil peran dalam rantai distribusi pertanian karena pola lama yang sudah terbentuk antara petani dengan tengkulak maupun jaringan pasar individu. Meskipun begitu, ada upaya untuk memperluas peran BUMDes, terutama dalam pengolahan hasil pertanian menjadi produk turunan seperti beras kemasan premium, keripik beras, hingga produk olahan berbasis pangan lokal.
Sutarno menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah mengorganisasi penjualan secara kolektif agar nilai ekonomi desa lebih maksimal. "Kami ingin BUMDes bisa mengambil peran lebih besar. Tetapi kendala budaya dan jaringan tengkulak yang sudah mengakar membuatnya sulit. Ke depan, ini harus kita atasi dengan pendekatan bertahap agar desa semakin sejahtera," tutupnya. (nur/adv)
Tags:
BUMDes
Loa Kulu
17 jam yang lalu
17 jam yang lalu
20 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu