Kategory
Budaya,
26-06-2026 13:08:54
Puluhan nelayan Desa Muara Wis mengikuti tradisi Beleongan di kawasan danau dalam rangkaian peringatan HUT ke-100 Desa Muara Wis, Rabu, 24 Juni 2026. Tradisi menangkap ikan bersama itu menjadi simbol gotong royong masyarakat setempat. (Harry/Sisikota.com)
MUARA WIS, SISIKOTA.COM – Desa Muara Wis merayakan hari jadinya yang ke-100 dengan menggelar tradisi Beleongan, Rabu, 24 Juni 2026. Tradisi menangkap ikan bersama itu menjadi salah satu agenda utama dalam peringatan satu abad desa tersebut.
Beleongan merupakan tradisi masyarakat Muara Wis yang dilakukan dengan cara menggiring ikan ke satu titik sebelum ditangkap bersama menggunakan jala. Tradisi ini berlangsung di kawasan danau dan melibatkan nelayan serta warga setempat.
Kepala Desa Muara Wis, Kasmir, mengatakan Beleongan telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas menangkap ikan, tetapi juga menyimpan nilai kebersamaan.
“Dalam bahasa Kutai, Beleongan dapat diartikan sebagai kegiatan mengepung ikan secara bersama-sama agar hasil tangkapan lebih banyak,” ujar Kasmir.
Ia menjelaskan, nilai utama dalam Beleongan adalah gotong royong. Masyarakat bekerja bersama dari berbagai sisi danau untuk menggiring ikan ke titik tertentu. Cara itu menunjukkan pentingnya kebersamaan dalam mencapai tujuan bersama.
Selain Beleongan, perayaan HUT ke-100 Desa Muara Wis juga diisi dengan permainan tradisional Belogo serta sejumlah pertunjukan seni budaya. Kasmir mengatakan permainan tradisional seperti Belogo dan gasing menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Kutai yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda.
“Permainan tradisional seperti Belogo dan gasing harus terus dilestarikan karena merupakan warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi,” katanya.
Berbagai tari tradisional Kutai juga ditampilkan dalam rangkaian peringatan hari jadi desa. Kegiatan tersebut memberi ruang bagi seniman lokal untuk menampilkan karya dan menjaga kesinambungan seni budaya daerah.
Ketua Panitia HUT ke-100 Desa Muara Wis, Bobi Ripangga, mengatakan Beleongan dipilih sebagai salah satu agenda utama karena memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat danau. Selain menjadi tradisi budaya, kegiatan itu juga menjadi simbol harapan terhadap keberlanjutan sumber daya perikanan di wilayah tersebut.
“Kami berharap potensi perikanan di Danau Muara Wis dapat kembali melimpah dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Bobi.
Menurut Bobi, peringatan hari jadi Desa Muara Wis selalu diarahkan untuk melibatkan masyarakat secara langsung. Selain merayakan perjalanan desa, kegiatan tersebut juga menjadi cara warga menjaga tradisi yang diwariskan para leluhur.
Rangkaian perayaan akan ditutup dengan tradisi Beseprah. Dalam budaya Kutai, Beseprah merupakan tradisi makan bersama yang melambangkan persatuan, kekeluargaan, dan kebersamaan tanpa membedakan status sosial.
Melalui peringatan satu abad Desa Muara Wis, masyarakat kembali menegaskan pentingnya menjaga tradisi lokal. Beleongan, Belogo, tari tradisional, dan Beseprah menjadi bagian dari cara warga merawat identitas budaya di tengah perubahan zaman. (rry)
Tags:
Muara Wis
17 jam yang lalu
17 jam yang lalu
20 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu