Stok Dipangkas Separuh, Pedagang Bendera di Tenggarong Keluhkan Sepinya Pembeli

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Lapak penjualan bendera dan atribut HUT ke-81 RI di tepi jalan di Tenggarong. Pedagang mengaku penjualan menjelang 17 Agustus tahun ini lebih sepi dibandingkan tahun lalu. (Harry/Sisikota.com)


Tenggarong, SISIKOTA.COM – Iman memangkas stok bendera yang dibawanya ke Tenggarong dari 12 karung pada tahun lalu menjadi enam karung tahun ini. Namun, menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, pedagang di Jalan Jenderal Sudirman itu mengaku satu karung pun belum habis terjual.

“Sekarang jangankan habis enam karung, satu karung saja belum habis. Tahun depan kemungkinan target akan saya turunkan lagi, mungkin cukup membawa sekitar lima karung saja,” kata Iman saat ditemui di lapaknya, Rabu (5/8/2026).

Menurut Iman, capaian penjualannya baru sekitar 14 persen dari target yang ditetapkan. Ia menilai kondisi tersebut dipengaruhi melemahnya kemampuan belanja masyarakat dan berkurangnya pembelian dari instansi pemerintah maupun sekolah.

Selama ini, pembelian dari instansi dan sekolah menjadi salah satu penopang penjualan atribut kemerdekaan. Namun, Iman mengatakan sejumlah tempat yang ditawarinya belum dapat berbelanja karena persoalan anggaran.

“Kami biasanya juga mengandalkan pembelian dari instansi dan sekolah, tetapi banyak yang mengatakan tidak ada dana dan anggarannya belum cair. Saya sudah menawarkan ke beberapa instansi dan sekolah, tetapi banyak yang menyampaikan belum bisa membeli karena anggaran tahun ini tidak tersedia,” katanya.

Iman menambahkan, sebagian masyarakat memilih menggunakan kembali bendera lama yang masih layak pakai. Menurutnya, imbauan untuk mengibarkan Merah Putih belum banyak memengaruhi penjualan bendera baru di lapaknya.

Keluhan serupa disampaikan Aufik, pedagang bendera dan atribut kemerdekaan di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Melayu. Pedagang yang telah menjalankan usaha musiman itu selama sekitar 15 tahun tersebut menyebut penjualan tahun ini termasuk yang paling sepi dibandingkan beberapa tahun terakhir.

“Tahun ini memang agak susah, penjualannya sepi,” kata Aufik.

Ia mengaitkan sepinya penjualan dengan berkurangnya pembelian dari instansi pemerintah. Menurut Aufik, pembelian instansi biasanya cukup membantu, sedangkan tahun ini penjualannya lebih banyak bergantung pada masyarakat.

Aufik mulai membuka lapak pada 17 Juli 2026. Ia menyediakan berbagai atribut kemerdekaan, mulai dari bendera Merah Putih dalam sejumlah ukuran, umbul-umbul, hingga bendera berbentuk segitiga. Barang-barang tersebut didatangkan dari Jawa Barat.

Hingga awal Agustus, Aufik mengaku modal yang dikeluarkannya belum kembali. Selain berkurangnya pembelian dari instansi, ia menyebut persaingan dengan toko daring turut memengaruhi penjualan pedagang di pinggir jalan.

“Sekarang juga bersaing dengan penjualan online. Memang barang di online lebih murah, walaupun kualitasnya berbeda dengan yang kami jual,” ujarnya.

Harga atribut yang ditawarkan Aufik berkisar Rp5 ribu hingga Rp300 ribu, bergantung pada jenis dan ukurannya. Dengan omzet sekitar Rp500 ribu per hari, ia memperkirakan keuntungan bersih yang diperoleh sekitar Rp150 ribu.

Meski penjualan masih sepi, kedua pedagang berharap permintaan meningkat menjelang 17 Agustus. Mereka menantikan pembelian dari masyarakat maupun instansi yang akan memasang bendera dan atribut untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan. (rry)

Iklan sisikota.com

Tags:

Tenggarong