Sungai Mahakam Tercemar Logam Berat, Pesut Sekarat, Bayi Manusia Lahir Tak Sehat

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Seekor Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) muncul di permukaan Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. (Dok RASI)


Kota Bangun, SISIKOTA.COM - Subuh belum benar-benar terang di Muara Kaman ketika suara air terdengar menabrak buritan perahu nelayan. Namun tak ada lagi lengkung punggung pesut yang dulu sering muncul bermain di sela riak air. Sungai Mahakam, yang mengalir ratusan kilometer membelah Kalimantan Timur, kini kehilangan denyutnya. Populasi pesut Mahakam, mamalia air tawar langka yang menjadi ikon sungai ini, hanya tersisa sekitar 62 ekor.

“Angka ini bukan sekadar data statistik, namun indikator kuat degradasi ekosistem yang memerlukan tindakan segera,” kata Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, dalam kunjungannya ke Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kamis, 3 Juli 2025.

Desa Pela merupakan salah satu kawasan penting konservasi Pesut Mahakam. Wilayah ini menjadi habitat alami yang masih relatif aktif, dan menjadi lokasi strategis bagi berbagai upaya pelestarian yang melibatkan masyarakat lokal.

Pesut Mahakam adalah subpopulasi langka dari lumba-lumba Irrawaddy (Orcaella brevirostris), satu-satunya yang hidup di air tawar di Indonesia. Hewan ini tidak bermoncong, tubuhnya berwarna abu-abu, dan dikenal sangat sosial. Tapi kini, ia terdesak oleh racun, limbah, dan lalu lintas industri yang merusak rumahnya—Sungai Mahakam.

Yayasan Konservasi RASI mencatat, sepanjang 2024, lima pesut ditemukan mati. Empat di antaranya mengandung toksin di atas ambang batas. Ada yang mati karena usia tua, namun ada juga yang organ hatinya rusak parah akibat akumulasi racun logam berat. Dalam kesempatan berbeda, peneliti RASI, Daniele Kreb, menyebut bahwa pencemaran sungai kini memasuki fase yang sangat mengkhawatirkan.

Dari 14 titik uji kualitas air yang dilakukan RASI, hanya satu yang masih aman: Sungai Boloan di Kedang Pahu, anak Sungai Mahakam di Kutai Barat. Selebihnya, telah tercemar logam berat seperti timbal dan tembaga, yang bersumber dari cat pelindung kapal, aktivitas pertambangan, dan perkebunan sawit. Jika terus dibiarkan, logam-logam ini tidak hanya membunuh pesut, tapi juga membahayakan manusia.

“Logam berat tidak bisa keluar dari tubuh. Kalau ibu hamil mengonsumsinya, bisa berdampak pada janin,” ujar Daniele. Ia mencatat ada dua kasus bayi lahir mati dengan kelainan organ yang diduga akibat paparan logam tersebut.

Selain racun, pesut juga diancam oleh praktik penangkapan ikan ilegal. Penggunaan setrum, bom, dan racun masih terjadi di banyak titik habitat pesut. Bahkan pernah ditemukan pesut mati dengan isi perut penuh ikan beracun, sampah plastik, dan popok bayi. Hewan ini bukan hanya kehilangan ruang hidupnya, tapi juga kehilangan rantai makanan alami.

Dari permukaan, lalu lintas tongkang yang mengangkut batubara terus mendominasi perairan Mahakam. Bunyi sonar kapal mengganggu kemampuan pesut dalam bernavigasi dan berkomunikasi. Tak jarang pula pesut mati karena tertabrak kapal. Padahal, menurut aturan dari Dinas Perhubungan, lebar kapal tidak boleh melebihi sepertiga lebar sungai. Tapi di lapangan, aturan ini kerap diabaikan.

Menteri Hanif menyatakan bahwa konservasi Pesut Mahakam telah menjadi bagian dari agenda prioritas nasional. Ia mengunjungi Desa Pela, salah satu lokasi yang aktif dalam upaya pelestarian, dan menyebut pentingnya kerja sama lintas sektor. “Konservasi pesut bukan soal menyelamatkan satu spesies. Ini tentang menjaga keseimbangan ekosistem sungai yang menopang hidup ribuan warga,” katanya.

Dalam kesempatan sama, Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Masud menyatakan dukungannya terhadap langkah Kementerian Lingkungan Hidup. "Pemprov Kaltim mendukung penuh upaya penyelamatan dan pelestarian Pesut Mahakam ini," tegasnya. Rudy menambahkan, pesut hanya hidup hingga usia sekitar 40 tahun dan hanya berkembang biak maksimal tiga kali sepanjang hidupnya. “Pesut Mahakam bukan hanya kebanggaan, tapi simbol keanekaragaman hayati Kalimantan Timur. Harus kita jaga dan lestarikan,” tandasnya.

Sementara, Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, menyatakan bahwa pihaknya langsung mengambil langkah konkret usai kunjungan Menteri Hanif ke Desa Pela. Ia menggelar rapat koordinasi lintas OPD dan mulai menjalankan program pelestarian.

“Kami sudah rapat bersama OPD Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta OPD Perikanan. Langkah nyata sudah kami mulai,” kata Aulia, Jumat 4 Juli 2025.

Ia menjelaskan bahwa Pemkab Kukar telah menyiapkan program penebaran benih ikan di Danau Semayang untuk memastikan ketersediaan pakan alami pesut. Selain itu, pemerintah juga mengembangkan inovasi pada keramba-keramba ikan dengan menambahkan chip khusus. Chip ini mengeluarkan sinyal saat pesut mendekat agar hewan tersebut menjauh dan tidak terjerat atau terpapar zat berbahaya.

“Keramba lama milik masyarakat kita tukar. Sekarang, yang baru sudah diberi chip. Kalau pesut mendekat, chip beri sinyal bahaya, jadi mereka menjauh,” jelas Aulia.

Ia menambahkan, dari hasil koordinasi terakhir, penyebab utama kematian pesut saat ini lebih banyak karena keracunan. “Oleh karena itu kami imbau masyarakat, terutama di sekitar Danau Semayang dan Desa Pela, untuk tidak menangkap ikan dengan racun,” ujarnya tegas.

Langkah Pemkab Kukar, sebagaimana disebutkan Bupati Aulia, menjadi angin segar dalam pelestarian pesut di Sungai Mahakam. Selama ini, banyak inisiatif konservasi masih ditopang oleh masyarakat sipil dan lembaga nonpemerintah. Yayasan RASI, misalnya, telah memantau pesut sejak 1995. Mereka juga memasang alat pinger di jaring nelayan agar pesut tidak terperangkap, melakukan pemantauan suara bawah air, hingga mengadvokasi zonasi konservasi seluas 43 ribu hektare di kawasan Muara Kaman, Kota Bangun, Muara Wis, dan Muara Muntai.

Di Kutai Barat, 18 kampung di Kecamatan Muara Pahu dan Penyinggahan kini dilibatkan dalam skema konservasi berbasis masyarakat yang dikenal dengan konsep OECM (Other Effective area-based Conservation Measures). Harapannya, kawasan ini akan memiliki aturan dan tata kelola yang menjamin perlindungan tidak hanya bagi pesut, tetapi juga bagi sumber penghidupan warga seperti ikan dan udang.

Namun semua itu akan percuma tanpa dukungan regulasi yang tegas, pengawasan yang ketat, dan keberpihakan politik yang nyata. Sementara sungai terus mengalir, pesut terus mati satu per satu. Dan Mahakam, sungai yang dulu menjadi ruang hidup ratusan spesies, perlahan menjadi ruang sunyi. (bby)

Iklan sisikota.com

Tags:

pesut mahakam

aulia rahman basri

Bupati Kukar

bupati kutai kartanegara

Desa Pela

Sungai Mahakam