Kategory
Info Daerah,
14-09-2026 12:39:04
Teksfoto: Suasana pemaparan SIGAP UMKM kepada peserta di Kutai Kartanegara. Program ini dirancang untuk memetakan kebutuhan pelaku usaha sebelum pendampingan diberikan. (Istimewa)
Tenggarong, SISIKOTA.COM – Pembinaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kutai Kartanegara (Kukar) dirancang tidak lagi berhenti setelah pelatihan. Kebutuhan setiap usaha akan dipetakan sebelum pendampingan diberikan dan perkembangannya dipantau secara berkala.
Pola tersebut dikembangkan Dinas Koperasi dan UKM Kukar melalui SIGAP UMKM atau Sistem Inkubasi dan Penguatan Tata Kelola UMKM.
Program itu digagas Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UKM Kukar, Santi Effendi, untuk membangun pembinaan yang lebih terarah dan sesuai dengan kondisi masing-masing pelaku usaha.
Santi mengatakan setiap UMKM memiliki tingkat kesiapan dan persoalan berbeda. Karena itu, pembinaan tidak dapat diberikan dengan pola yang sama kepada seluruh peserta.
“Melalui SIGAP UMKM, kami ingin mengetahui terlebih dahulu kondisi dan kebutuhan pelaku usaha. Dari hasil asesmen tersebut, pendampingan diarahkan pada kebutuhan yang benar-benar menjadi prioritas sehingga pembinaan lebih tepat sasaran dan hasilnya dapat dipantau,” kata Santi.
Pelaksanaan SIGAP UMKM dimulai dengan pendataan dan verifikasi calon peserta. Tahap berikutnya meliputi asesmen kebutuhan, pemetaan tingkat kesiapan usaha, serta pengelompokan atau segmentasi UMKM.
Hasil pemetaan tersebut akan digunakan untuk menyusun rencana pengembangan setiap usaha. Dengan pola itu, bentuk pendampingan yang diberikan dapat berbeda antara satu pelaku UMKM dan lainnya.
Pendampingan dapat difokuskan pada pengurusan legalitas, peningkatan kualitas produk dan kemasan, pencatatan keuangan, pemasaran digital, peningkatan kapasitas produksi, akses pembiayaan, maupun pengembangan jejaring dan kemitraan.
SIGAP UMKM juga menyiapkan proses monitoring dan evaluasi untuk melihat perubahan kondisi peserta sebelum dan setelah mendapatkan pendampingan.
Perkembangan usaha akan dilihat melalui sejumlah indikator. Di antaranya kelengkapan legalitas, tata kelola usaha, pencatatan keuangan, kualitas produk dan kemasan, pemasaran digital, kapasitas produksi, serta peluang memperoleh pembiayaan dan kemitraan.
Santi menekankan keberhasilan pembinaan tidak cukup diukur dari banyaknya pelatihan atau kegiatan yang telah dilaksanakan. Perubahan pada usaha peserta menjadi indikator yang ingin ditampilkan melalui program tersebut.
“Kami ingin pembinaan UMKM menghasilkan perubahan yang dapat dilihat dan dibuktikan. Tidak harus langsung besar, tetapi ada kemajuan yang jelas dari kondisi awal menuju kondisi usaha yang lebih baik,” ujarnya.
Uji coba menjadi salah satu tahap untuk memastikan model SIGAP UMKM dapat diterapkan dan sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha. Hasil pemantauan dan evaluasi akan digunakan untuk menyempurnakan pola pembinaan sebelum dikembangkan dalam cakupan yang lebih luas.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kukar, Muhammad Reza, turut mendukung pelaksanaan SIGAP UMKM sebagai bagian dari upaya memperbaiki tata kelola pembinaan usaha mikro.
Melalui pendekatan tersebut, pembinaan diharapkan dapat berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan. Pelaku UMKM tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi memperoleh pendampingan berdasarkan kebutuhan prioritas usahanya. (*)
Tags:
UMKM
umkm kukar
17 jam yang lalu
18 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu