Kategory
Info Daerah,
24-08-2026 12:45:54
Tanah pada lahan sawah di Kelurahan Bukit Biru, Tenggarong, tampak mengering dan merekah saat musim kemarau. (Harry/Sisikota.com)
Tenggarong, SISIKOTA.COM – Sejumlah lahan pertanian di Kutai Kartanegara (Kukar) mulai kekurangan air di tengah musim kemarau. Tanah di beberapa hamparan sawah bahkan mulai mengering dan merekah saat tanaman padi masih membutuhkan waktu sebelum memasuki masa panen.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kukar mengusulkan sejumlah sentra pertanian menjadi lokasi prioritas apabila teknologi modifikasi cuaca dilaksanakan di Kalimantan Timur.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan usulan tersebut telah disampaikan melalui koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kaltim. Pemkab Kukar mengarahkan prioritas modifikasi cuaca pada wilayah yang berkaitan dengan produksi pertanian dan ketahanan pangan.
“Kita dengan BPBD Provinsi menentukan titik-titik yang akan dilakukan rekayasa cuaca. Titik tekan kita sekarang, rekayasa cuaca ini berada di titik-titik utama yang terkait dengan sektor pertanian,” kata Aulia saat ditemui di Pendopo Odah Etam, Kamis (20/8/2026).
Aulia menyebut beberapa wilayah yang diusulkan meliputi Bukit Biru, Desa Semangkok, Sebulu, Tenggarong Seberang, dan Loa Kulu. Daftar tersebut masih berupa titik yang diajukan, sedangkan jadwal dan cakupan pelaksanaannya belum disampaikan.
Wilayah-wilayah tersebut menjadi perhatian karena memiliki hamparan pertanian yang membutuhkan pasokan air selama kemarau.
“Kalau tidak salah, titiknya di Bukit Biru, Semangkok, Sebulu, Tenggarong Seberang, dan Loa Kulu. Mungkin itu yang berhubungan dengan ketahanan pangan,” ujarnya.
Pemkab Kukar berharap semakin banyak sentra pertanian dapat dijangkau apabila modifikasi cuaca dilaksanakan. Namun, Aulia mengatakan pelaksanaannya juga memerlukan biaya yang tidak sedikit.
“Kita lebih senang kalau lebih banyak titik bisa dialiri atau dilakukan rekayasa ini. Kita juga paham bahwa biaya untuk melakukan rekayasa ini tidak murah,” katanya.
BMKG Samarinda sebelumnya memprakirakan musim kemarau di sejumlah wilayah Kaltim dapat berakhir pada September hingga Oktober 2026. Waktu peralihan musim dapat berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya.
Sembari mengusulkan modifikasi cuaca, Pemkab Kukar melakukan pengairan langsung menggunakan pompa dan selang pada lahan yang masih dapat dijangkau sumber air.
Di Desa Loa Duri Seberang, sekitar 25 hektare sawah telah mendapatkan pasokan air yang dipompa dari Sungai Mahakam.
“Kemarin kami meninjau di Loa Duri Seberang, itu ada sekitar 25 hektare sawah. Itu sudah bisa teraliri. Kita pakai pompa, ambil air dari Mahakam,” jelas Aulia.
Langkah serupa dilakukan di Desa Kerta Buana. Tiga unit pompa digunakan untuk mengalirkan air ke sekitar 209 hektare lahan sawah yang mulai mengalami kekeringan. Tanah di sebagian lahan tersebut dilaporkan telah merekah.
Tanaman padi di kawasan itu sebagian besar telah berusia sekitar dua bulan. Petani masih membutuhkan waktu sekitar satu hingga satu setengah bulan untuk mencapai masa panen sehingga ketersediaan air menjadi penting untuk mempertahankan tanaman.
“Harapan kita proses penanaman padi ini tidak terganggu, sehingga produksi padi di tempat kita juga tidak terganggu,” ungkapnya.
Secara keseluruhan, sekitar 234 hektare sawah di Loa Duri Seberang dan Kerta Buana menjadi sasaran pengairan menggunakan pompa. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga tanaman tetap memperoleh air sembari menunggu perkembangan musim dan tindak lanjut usulan modifikasi cuaca. (rry/bby)
Tags:
modifikasi cuaca
17 jam yang lalu
17 jam yang lalu
20 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu