Topeng Kayu dan Gong Bertalu di Loa Kulu, Festival Hudoq Bahau Busang Resmi Dimulai

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Penari Hudoq menampilkan tarian khas Dayak dalam pembukaan Festival Budaya Hudoq Bahau Busang di Desa Loa Kulu Kota, Sabtu (1/11/2025). Tarian ini menjadi simbol ungkapan syukur dan penghormatan kepada leluhur. (Istimewa)


Loa Kulu, SISIKOTA.COM - Dari kejauhan, suara gong dan gendang bergema di antara pohon-pohon aren yang tumbuh rapat di tepi dusun. Asap dupa naik perlahan, bercampur aroma daun pisang kering dan tanah lembap. Di tengah lapangan berpasir, beberapa penari Hudoq melangkah dengan gerak tegas—kepala mereka ditutupi topeng kayu berhias paruh dan bulu enggang, tubuh diselimuti anyaman daun hijau yang berayun setiap kali gong berdentang.

Begitulah Festival Budaya Hudoq Bahau Busang dibuka di Desa Loa Kulu Kota, Sabtu (1/11/2025). Di Lapangan Perencanaan Lamin Nusantara, masyarakat dari berbagai dusun dan desa sekitar datang berbondong-bondong. Bagi warga Loa Kulu, ini bukan sekadar pertunjukan, tapi pengingat: bahwa warisan leluhur masih hidup dan berdenyut di tanah sendiri.

Festival ini akan berlangsung hingga 19 November. Rangkaian acaranya dimulai dengan tarian Hudoq, pertunjukan adat masyarakat Dayak yang melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan penghormatan kepada roh leluhur. Setiap topeng kayu memiliki bentuk dan warna berbeda—ada yang melambangkan hewan pelindung, ada pula yang mewakili kekuatan alam.

Setelah tarian, para tetua adat memimpin ritual Bahau Busang, doa adat untuk keselamatan, panen yang baik, dan kedamaian bagi seluruh warga. Sesaji hasil bumi diletakkan di tengah lingkaran penari. Irama tabuhan gong tak berhenti, mengiringi setiap kata doa yang diucapkan dengan tenang.

Dukungan terhadap acara ini datang dari banyak pihak. Pemerintah Kecamatan Loa Kulu hadir melalui Kasi Pelayanan Umum Muhammad Fadli. Dalam sambutannya, ia menyebut kegiatan seperti ini penting untuk menanamkan kebanggaan terhadap identitas lokal. “Budaya seperti Hudoq ini adalah jati diri kita. Sudah sepatutnya kita rawat dan teruskan kepada generasi muda,” ujarnya.

Tokoh masyarakat H. Syaharie Jaang juga hadir bersama Kepala Desa Loa Kulu Kota, Kapolsek Loa Kulu, serta para pemangku adat. Mereka ikut memberikan restu agar festival berjalan lancar hingga penutupan nanti.

Selama pelaksanaan festival, beragam kelompok seni dari Loa Kulu dan sekitarnya menampilkan tarian-tarian adat. Setiap kelompok membawa motif busana dan gaya gerak berbeda, menandakan keragaman subetnis Dayak yang tinggal di wilayah ini. Bagi anak-anak muda yang terlibat, latihan berbulan-bulan akhirnya terbayar saat mereka tampil di depan warga dan tamu undangan.

Menjelang sore, sorak kecil terdengar setiap kali topeng Hudoq berputar cepat, daun-daun yang melilit tubuhnya terurai oleh angin. Warga yang menonton dari tepi lapangan berdiri, sebagian mengangkat ponsel untuk merekam, sebagian lagi hanya tersenyum melihat anak-anak menirukan langkah para penari.

Festival Hudoq Bahau Busang menjadi bukti bahwa tradisi masih punya ruang di tengah desa yang terus berubah. Ia bukan hanya ritual, tapi cara masyarakat menjaga hubungan antara manusia, alam, dan ingatan mereka tentang masa lalu. (*)

Iklan sisikota.com

Tags:

Loa Kulu