Kategory
Budaya,
Info Daerah,
18-10-2025 10:32:01
Penyelenggara Festival Yupa Muara Kaman berfoto bersama usai kegiatan konferensi pers di Taman Tanjong Tenggarong, Jumat (17/10/2025) malam. (Bobby Lolowang/Sisikota.com)
Tenggarong, SISIKOTA.COM - Dari tepi Sungai Mahakam, Muara Kaman menyimpan tujuh batu bertulis yang diam seribu tahun. Prasasti itu mencatat kemurahan hati Raja Mulawarman yang memberi penghargaan kepada para brahmana—tanda bahwa di tanah ini, kekuasaan dan spiritualitas pernah hidup berdampingan. Kini, di abad ke-21, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diarpus) Kutai Kartanegara berupaya menghidupkan kembali ingatan yang terpatri di batu itu lewat cara yang lebih modern: arsip, literasi, dan festival budaya.
Plt Kepala Diarpus Kukar Rinda Desianti menjelaskan, tujuh prasasti Yupa itu ditemukan pertama kali pada 1879 di Bukit Brubus, Muara Kaman. Isinya menceritakan kebijakan Kerajaan Mulawarman yang memberi penghormatan kepada tokoh agama. “Salah satu arsip yang kami daftarkan ke ANRI adalah Yupa Muara Kaman. Tujuannya agar diakui sebagai bagian dari Memori Kolektif Bangsa,” ujarnya dalam konferensi pers di Taman Tanjong, Tenggarong, Jumat malam, 17 Oktober 2025.
Ia menambahkan, upaya ini berjalan seiring dengan langkah Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kalimantan Timur & Kalimantan Utara yang mengusulkan ketujuh prasasti itu ke UNESCO agar masuk program Memory of the World (MoW). “Kami berharap Yupa dapat menjadi tonggak sejarah bangsa. Identitas budaya yang dikenal kembali,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Dedi Nala Arung dari Naga Pore selaku pelaksana kegiatan memaparkan, rangkaian festival juga diisi lomba menulis cerita rakyat dan karya jurnalistik feature. Peserta diminta menulis minimal 1.500 kata untuk kategori cerita rakyat dan 2.000 kata untuk kategori berita feature. “Temanya sederhana: menulis cerita, merawat budaya. Kutai dikenal dengan tradisi lisan seperti tarsul, mamai, hingga dongeng. Melalui lomba ini, kami ingin budaya tutur itu menemu kembali bentuknya lewat tulisan,” ujar Dedi yang merupakan seniman dan budayawan tersebut.
Ia menegaskan, seluruh karya harus orisinal dan tidak mengandung unsur SARA. Peserta yang menggunakan referensi wajib mencantumkan sumbernya. Selain lomba tulisan, panitia juga menyiapkan lomba reels Instagram agar promosi budaya Kutai menjangkau generasi muda.
Rinda Desianti menambahkan, tahun depan Diarpus Kukar akan membangun depo arsip dan diorama sejarah. “Konsepnya agar masyarakat bisa belajar sejarah lewat arsip visualisasi. Dari abad ke-4 masa Mulawarman, masuknya Islam, masa kemerdekaan, sampai Kukar masa kini,” ucapnya.
Diorama itu juga diharapkan menjadi sarana edukasi publik yang terjangkau. “Orang datang, membayar tiket murah, tapi pulang membawa pengetahuan luas,” katanya. Ia menyebut pembangunan depo arsip juga bagian dari upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah melalui kegiatan edukatif.
Festival Yupa tahun ini menjadi bagian penting dalam proses nominasi arsip ke ANRI. Kepala Diarpus menuturkan, festival merupakan salah satu persyaratan akhir yang harus dipenuhi sebelum Kukar bisa melangkah ke tahap nasional. Setelah tahapan ini rampung, dokumen dan arsip akan dikirim ke ANRI untuk diverifikasi sebagai bagian dari Registrasi Memori Kolektif Bangsa.
Di Muara Kaman, batu-batu Yupa tetap berdiri dalam diam. Namun lewat arsip, tulisan, dan festival, Kutai berusaha membuatnya berbicara kembali—menghubungkan masa Mulawarman dengan masyarakat yang kini berupaya mengenali akar sejarahnya sendiri. (bby)
Tags:
muara kaman
prasasti yupa
18 jam yang lalu
19 jam yang lalu
21 jam yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu
1 hari yang lalu