Viral Bupati Kukar Tebar Benih Padi di Danau Semayang, Akademisi: Keberhasilannya Harus Dibuktikan

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri bersama sejumlah pihak menebar benih padi di kawasan Danau Semayang, Kecamatan Kenohan, Selasa (1/9/2026). (Harry/Sisikota.com)


Tenggarong, SISIKOTA.COM – Unggahan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri saat menebar benih padi langsung ke perairan Danau Semayang, Kecamatan Kenohan, ramai diperbincangkan di media sosial.

Dalam unggahannya, Aulia menyebut sekitar satu ton benih padi ditebar di kawasan danau yang airnya sedang menyusut akibat kemarau. Pemandangan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan benih tumbuh setelah ditebar langsung ke air.

Rektor Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) sekaligus dosen pertanian, Ince Raden, menilai keberhasilan penebaran benih tersebut tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan proses yang terlihat dalam video.

Terlebih, Ince mengaku belum melihat secara langsung kondisi lokasi maupun teknik yang diterapkan di Danau Semayang.

“Secara teknis, saya tidak melihat langsung lokasi tempat penyebaran benih yang berada di atas permukaan air. Namun, memang secara umum ada pola penanaman di atas air yang memungkinkan padi tumbuh dan berkembang,” ujar Ince saat ditemui di Gedung Rektorat Unikarta, Selasa (8/9/2026).

Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang menentukan kemungkinan benih tersebut tumbuh. Di antaranya media persemaian, jenis benih, kedalaman air, pergerakan air, serta perubahan volume air setelah benih ditebar.

Pada pola penanaman tertentu, kata Ince, diperlukan media yang mendukung perkembangan awal benih sebelum akar tanaman mencapai tanah.

“Biasanya ada media yang disiapkan untuk benih terlebih dahulu. Setelah itu, akar akan tumbuh ke bawah hingga menyentuh permukaan tanah,” katanya.

Selain media tanam, kesesuaian varietas benih dengan kondisi perairan juga perlu diperhatikan. Namun, Ince mengaku belum memperoleh informasi teknis yang cukup mengenai jenis dan kemampuan adaptasi benih yang digunakan di Danau Semayang.

“Jenis benihnya juga perlu diperhatikan. Saya tidak mendapatkan informasi yang cukup mengenai apakah benih yang disebar itu memang bisa menyesuaikan atau beradaptasi dengan kondisi ketinggian air tertentu dari permukaan tanah,” jelasnya.

Perubahan muka air juga menjadi salah satu faktor penting. Apabila volume air meningkat atau arus bergerak cukup kuat, benih berpotensi berpindah dari lokasi awal.

“Perlu dilihat apakah volume air akan mengalami penyurutan atau justru peningkatan. Kalau terjadi peningkatan volume air, benih memang bisa saja menyebar ke mana-mana,” ungkap Ince.

Menurutnya, kualitas benih turut memengaruhi kondisinya saat ditebar ke air. Benih yang bernas atau berkualitas baik cenderung tenggelam, sedangkan benih yang kurang baik biasanya mengapung.

Namun, tenggelamnya benih belum otomatis memastikan tanaman akan tumbuh. Kondisi dasar perairan serta kedalaman air tetap menentukan apakah benih dapat berkembang.

“Kalau airnya tidak mengalir dan ada media atau bagian dasar yang disiapkan, memungkinkan benih tersebut jatuh ke bawah dan masuk ke dalam tanah,” katanya.

Ince menjelaskan, pada tahap awal persemaian, tanah umumnya berada dalam kondisi lembap atau becek, bukan tergenang air terlalu dalam. Karena itu, kondisi aktual lokasi saat penebaran benih perlu diketahui sebelum metode tersebut dinilai berhasil atau gagal.

Ia juga menyarankan agar kegiatan tersebut didampingi tenaga teknis dan petani lokal yang memahami karakteristik Danau Semayang.

“Seharusnya ketika Pak Bupati hadir, beliau juga didampingi oleh staf teknis terkait dan para petani lokal yang mungkin sudah terbiasa dengan cara-cara seperti itu,” ujarnya.

Ince menegaskan dirinya belum dapat memberikan penilaian akhir mengenai metode yang diterapkan. Menurutnya, ukuran paling konkret adalah perkembangan benih setelah ditebar.

“Yang paling penting menurut hemat saya adalah melihat apakah terjadi pertumbuhan padi di lapangan. Kita tidak bisa langsung menjustifikasi bahwa itu berhasil atau tidak, tetapi harus ada buktinya,” tegasnya.

Karena itu, kondisi tanaman di lokasi perlu kembali diamati untuk mengetahui berapa banyak benih yang tumbuh dan mampu bertahan terhadap perubahan muka air.

“Apakah setelah Pak Bupati beberapa waktu lalu ke Danau Semayang dan melakukan penyemaian dalam kondisi seperti itu, sekarang ada pertumbuhan padi atau tidak? Itu yang paling bagus untuk mengklarifikasi,” katanya.

Dengan demikian, penebaran benih padi di Danau Semayang belum dapat dinilai hanya berdasarkan tampilannya dalam video. Pertumbuhan benih di lapangan menjadi indikator awal untuk menilai penerapan metode tersebut, sementara keberhasilan akhirnya baru dapat diketahui dari perkembangan tanaman hingga masa panen. (rry/bby)

Iklan sisikota.com

Tags:

danau semayang