Yang Lebih Seru daripada Soal Berbeda Hari Raya

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Ilustrasi refleksi makna Ramadan yang menyoroti kontras antara citra lahiriah dan kondisi batin, di tengah tradisi Lebaran yang kerap diwarnai simbol status dan penampilan. (Redaksi/AI Generated)


Oleh: Dedi Nala Arung

JIKA inti puasa hanyalah menahan lapar, maka jangan-jangan kita mengartikan hari raya adalah melepas lapar? Bisa jadi juga bukan hanya melepas lapar, tapi melepas apa pun yang selama bulan Ramadan kemarin kita tahan untuk tidak kita lakukan, seolah-olah kontrol untuk kembali melakukan apa pun sudah kembali ke tangan kita.

Melihat puasa hanya dalam pengertian menahan lapar artinya pembacaan kita terhadap Ramadan itu terlalu dangkal. Puasa harusnya dibaca pula sebagai mekanisme pertahanan agar tidak lekas tunduk pada dorongan, apa pun bentuk dorongan itu. Saat ada dorongan untuk minum, maka lewat Ramadan kita membentuk pertahanan. Saat ada dorongan untuk memaki orang, kita menundukkannya dengan bersabar.

Perspektif tersebut memandu kita kepada pengertian bahwa hal-hal tentang Ramadan termasuk segala yang menyertainya seperti puasa, sahur, i’tikaf, resitasi Qur’an, zakat bahkan lebaran bukanlah soal praktik musiman yang religius, tetapi tentang nilai berkemanusiaan.

Nilai berkemanusiaan memiliki dua sudut terapan. Pertama, bentuk terapan terhadap sesama manusia atau makhluk. Kedua, terapan pada diri sendiri. Dari kedua sudut terapan ini, sepertinya kita masih cenderung banyak mempraktikkannya pada sudut yang kedua.

Mencuri uang tetangga untuk membeli baju lebaran misalnya, adalah contoh paling gampang untuk menunjukkan bukti kecenderungan kita tersebut. Jika merujuk kembali pada pernyataan awal di atas, inilah bentuk ketidakmampuan kita menghalau dorongan untuk menampilkan identitas diri lewat baju baru di saat lebaran agar bisa mencitrakan kemajuan sosial ekonomi kita di mata para saudara, di mata tetangga, di mata orang-orang di kampung halaman kita, di mata kolega kantor kita sekaligus di mata masyarakat luas. Kita telah memerangkapkan diri pada keyakinan yang keliru soal esensi Ramadan sekaligus esensi kemanusiaan.

Ketundukan kita bukan lagi pada hal-hal yang bersifat esensial. Kita terduduk tunduk sekaligus membuat pengakuan bahwa kita telah takluk pada kemauan mainstream. Apa kemauan mainstream? Yaitu kualitas diri dinilai dari apa yang dipertontonkan. Semakin banyak gelang emas dipakai, berarti semakin tinggi derajat ekonomi kita. Semakin sering pakai baju baru berarti semakin tinggi penghasilan kita.

Jika memakai teori tuan Erich Fromm, inilah yang ia sebut sebagai Marketing Character atau manusia dengan watak pemasaran. Manusia menjual dirinya sendiri melalui segala sesuatu yang bersifat citra dan kebendaan. Senyum dilebar-lebarkan biar kelihatan ramah. Narasi dibangun dengan teknik storytelling jitu agar terkesan sukses di mata kawan sekampung, kerudung atau gamis dijuntai supaya terlihat lebih religius.

Meneropong diri sendiri pasca-Ramadan nampaknya akan jauh lebih seru daripada memperbincangkan hari raya Idulfitri yang berbeda tanggalnya. Herannya, para petinggi negeri masih senang benar untuk mengurusi remeh-temeh perdebatan di kolom komentar media sosial ketimbang menjaga kewarasan berpikir masyarakat dalam keberkahan perbedaan. Para petinggi kita memang terlanjur masih mainstream sikapnya.

Saya sempat tergelitik sewaktu ada seorang netizen yang berkomentar sarkas sehabis organisasi ulama mengumumkan bahwa berlebaran di luar ketetapan penguasa adalah haram. “Berarti sholat Idulfitri di luar jadwal pemerintah sama dengan makan babi dong?”

Logika sarkas semacam ini nih yang malah ramai jadi agenda perbincangan. Ah, kita memang masih jauh dari pemikiran esensial.

Selamat berlebaran semuanya. Saya teringat perkataan Jane Austen, “Hari raya rupanya tak pernah gagal mempertemukan orang-orang yang saling menjaga tata krama, bahkan ketika pengertiannya sendiri belum sepenuhnya hadir di ruang yang sama. Ada bakat besar dalam keluarga untuk tampak rukun sambil tetap salah menilai satu sama lain dengan sopan.”

Tapi dari sekian banyak perkataan tentang hari raya, saya tetap kepincut perkataannya tuan Sapardi Djoko Damono;
“Pagi ini angin lewat seperti biasa, membawa bau opor dan satu nama yang lewat begitu saja di kepalaku. Barangkali maaf memang begitu: tidak datang sebagai peristiwa besar, hanya singgah sebentar, lalu tinggal lebih lama daripada yang kita rencanakan.”

Selamat Idulfitri 1447 Hijriah
Mohon maaf lahir batin.

Iklan sisikota.com

Tags:

Dedi Nala Arung