Yang Nanam Kukar, yang Ekspor Jakarta: Pemkab Siapkan Tata Kelola Kratom agar Terserap Daerah

                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Info Daerah

Daun tanaman kratom (Mitragyna speciosa) yang tumbuh di wilayah tropis Asia Tenggara. (Istimewa)


Produk kratom dari Kutai Kartanegara (Kukar) telah menembus pasar India. Dalam ekspor perdana dengan nilai Rp17 miliar yang dilepas Menteri Perdagangan RI Budi Santoso pada Februari lalu di Jakarta, sebagian besar disebut berasal dari Tenggarong Seberang. Namun hingga kini, nama daerah penghasil belum tercatat dalam data ekspor. Semua masih tercatat atas nama Jakarta, karena pengiriman harus melalui fasilitas ekspor di ibu kota.

“Kalau kita di sini tak bekerja, yang diekspor produk kita, namun yang mendapat nama ekspor adalah Jakarta,” kata Bupati Kukar Aulia Rahman Basri saat diwawancara di Tenggarong, Kamis, 23 Oktober 2025.

Aulia menyebut kratom bisa menjadi sumber ekonomi baru di Kukar, terutama di Tenggarong Seberang dan Kota Bangun. Banyak petani mengolah daun kratom menjadi serbuk sebelum dijual ke koperasi dan perusahaan mitra ekspor. Namun, nilai tambah komoditas itu belum sepenuhnya terserap di daerah. Kukar belum memiliki fasilitas ekspor seperti mesin x-ray dan laboratorium uji kualitas. Akibatnya, hasil produksi masih dikirim ke Jakarta untuk pemeriksaan sebelum diekspor.

Untuk memperbaikinya, Pemkab Kukar telah membentuk kelompok kerja lintas sektor yang melibatkan akademisi dari Universitas Mulawarman, Dinas Kehutanan, pelaku usaha, dan masyarakat. “Sekarang tim sudah final. Tahap berikutnya adalah feasibility study dan rencana aksi di lapangan,” ujar Aulia.

Ia mengatakan, pabrik kratom sebenarnya sudah ada di Tenggarong Seberang, namun kapasitasnya masih terbatas. “Pabrik sudah bisa membuat ekstrak, tapi produksinya kecil. Ke depan, kita ingin penguatan kapasitas dan kolaborasi dengan petani,” ujarnya.

Sebelumnya, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Prof Rudianto Amirta, menyebut Koperasi Anugerah Bumi Hijau (Koprabuh) di Desa Bangun Rejo sudah bermitra dengan PT Dj Botanical Indonesia untuk ekspor kratom. “Kami sudah melakukan kunjungan lapangan di Muhuran, Sebelimbingan, dan Genting Tanah sejak 2023. Hilirisasinya dilakukan bersama PT Dj Botanical,” katanya.

Kini, ekspor kratom diatur melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 dan 21 Tahun 2024, yang mewajibkan produk berbentuk serbuk di bawah 600 mikron. Aturan ini mendorong harga kratom naik hingga US$5 per kilogram, atau sekitar Rp82 ribu, jauh lebih tinggi dibanding saat masih berupa daun mentah.

Namun situasi di lapangan menunjukkan ketimpangan fasilitas antar daerah penghasil. Pada 30 September lalu, Badan Karantina Indonesia mencatat ekspor kratom sebesar 343,5 ton senilai Rp15,4 miliar ke India melalui Pelabuhan Dwikora Pontianak, Kalimantan Barat. Ekspor itu dapat dilakukan langsung karena Kalbar sudah memiliki pelabuhan dan fasilitas karantina.

Peristiwa tersebut menjadi pembanding nyata bagi Kukar. Daerah ini memiliki bahan baku dan industri awal, namun belum memiliki jalur ekspor sendiri. “Kalau kita di sini tak bekerja, yang diekspor produk kita, namun yang mendapat nama ekspor adalah Jakarta,” ujar Aulia.

Kepala BNN Komjen Pol Marthinus Hukom sebelumnya menyebut kratom sebagai tanaman yang perlu diawasi karena kandungannya berinteraksi dengan reseptor otak mirip opioid. “Kita harus penuh kehati-hatian untuk melaksanakan tata niaga ini,” ujarnya di Jakarta, Januari lalu.

Sementara Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan, kratom belum bisa dijual di dalam negeri, namun boleh diekspor dengan pengawasan ketat. “Belum ada peraturan yang terkait dalam negeri,” kata Budi pada Februari lalu.

Dari Tenggarong Seberang hingga Pontianak, kratom kini tumbuh sebagai sumber ekonomi baru di Kalimantan. Bedanya, satu daerah sudah mengekspor atas nama sendiri, sementara yang lain masih menunggu fasilitas yang memadai. Kukar kini mencoba memperbaikinya — agar hasil bumi mereka tak lagi berangkat dari pelabuhan orang lain. (bby)

Iklan sisikota.com

Tags:

aulia rahman basri

Bupati Kukar

bupati kutai kartanegara

kratom